Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label CERPEN/FIKSI KARYAKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN/FIKSI KARYAKU. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Agustus 2015

Kisah Kehidupan, Kisah Ibu . Kisah Istri... tak ada Yang Ingin Disengsarakan.

Seorang  teman , sebut saja Lisye , nama samarannya. Matanya berkaca-kaca.  

Ia seorang nenek, dan memiliki 3  anak, putra sulungnya sudah berkeluarga, memberikan cucu yang lucu- satu-satunya pelipur lara di hari tuanya. Usianya lebih dari 58 tahun. 

Ia menceritakan masa kecilnya yang indah, lahir dan tinggal di Jakarta. Di sebuah rumah besar dan mewah. Dengan kamar tidur -kamar tidur yang masing-masing memiliki teras dan menghadap ke taman.
Tumbuih besar dalam keluarga berpunya,  ia kuliah di Trisakti.  Tahun 1970an, siapapun yang kuliah di Trisakti,  sudah pasti anak orang berpunya. Karena biaya kuliah di kampus bergengsi ini sangat mahal untuk ukuran masa tersebut.
FIKSI: aku pulang menjelajahi kemarau.... Kompasiana

Lulus S1 fakultas ekonomi, ia mulai merintis jadi  pengajar di sana. Dulu, seorang dosen boleh lulus S1. Kalau sekarang minimal S2 bukan.

Saat telah berumah tangga, dengan seorang pria  , ia berharap mendapatkan  hal-hal yang semua ibu rumah tangga pasti memimpikannya.

Coba tanya, setiap orang. Berumah tangga ingin bahagia bukan? Mungkin  kurang normal kalau ada yang menjawab, saya sudi diperistri karena ingin dibuat susah, dibuat miskin, dibikin sengsara... atau siap jadi pelayan bagi keluarga besar suami? "Iiiih, sorrry yaaaa., gue bukan babu brooo," itu bahasa kasar ala Betawi.  Atau..., saya jadi istri siap berbagi, mulai dari perhatian, cinta, dan uang , dengan wanita lain? Tidak mungkinlah.

Jelas tidaklah. Semua istri ingin totalitas dari suaminya, cinta, perhatian, kasih sayang, nafkah uang, dan lain sebagainya. Meskipun pada  kenyataannya banyak suami yang harus membagi nafkah keuangannya dengan adik-adiknya, ibunya. pamannya, dan lain sebagainya. 

Selama saat berbagi itu  tidak malah menyusahkan istri sendiri, mungkin sah-sah saja. Tapi kalau di atas sepertiga gaji sudah harus diberikan  kepada ibunya, selama 31 tahun usia perkawinan, sembunyi-sembunyi pula..... sementara istrinya hidup dalam kondisi sangat prihatin, super hemat, pas-pasan... Bahkan penuh pahit getir. ... 

Ini mah bukan lagi berbagi kebajikan bagi  ibunya. Tapi   sudah  menempatkan ibunya sebagai  'istri' dalam tanda kutip. Sementara istri sesungguhnya hanyalah objek penderita selama 31 tahun.

Di sini masalahnya. Ibu mertua yang sangat dominan membuat Lisye merasa terpenjara . Ipar-ipar perempuannya yang suka mengkritik dan ikut mengatur urusan rumah tangganya,  memang mirip dengan ertua Bu Lisye.

Ternyata , Bu Lisye ditipu. Selama ini sebagian gaji suami diberikan kepada ibu mertuanya. Saat suaminya mendapat  uang pesangon,setelah pensiun,  ibu mertuanya  menghasut suaminya untuk bercerai. Dan , semua uang dibawa pergi. Untung Bu Lisye memiliki anak lelaki yang sudah kerja. Akhirnya  ia menerima bantuan putranya. Lalu menerima jahitan untuk menambal kebutuhan dapurnya. 

Singkat cerita, setelah suaminya pergi. Pertama sedih dan menangis. Apalagi tidak satu rupiahpun ditinggalkan sang suami. Tapiiii... hari demi hari setelah airmatanya membanjir setiap malam. Ia seperti melihat dunia yang sesungguhnya.

"Saya merasa merdeka. Merdeka dari lelaki yang satu paket dengan ibu mertua dan ipar-ipar yang  ...hatinya busuk. Tukang pengeretan. .... Bu, saya merasa merdeka dari satu paket kesusahan. Mantan suami saya itu    saya anggap satu paket lengkap kesusahan.... Setahun berlalu, meski hidup sederhana karena uang dari putra saya memang pas-pasan. Tapi ...inilah kebahagiaan.

Dulu, Abah, mantan suami saya itu tak pernah memikirkan kebahagiaan saya. Saya diadili, dicaci maki dan dijudgment buruk oleh adik-adik perempuannya yang nynyir itu.... saya tidak dilindungi.. tidak. Abah tidak berdaya, saat saya jadi pesakitan ..sebab pelakunya adalah ibundanya tersayang, dan adik-adik perempuannya tercinta....." Ibu Lisye menyeka airmatanya.

"Namun kini setelah Abah sakit, uangnya tandas ludes. Ibu dan adik-adiknya tak mau mengurusnya. Jadilah anak perempuan bungsu kami harus menginap di rumah neneknya. Ia mengurus ayahnya yang sudah sakitan.
Bukan saya tak mau kembali lagi dengan ayahnya anak saya.  Bahkan minta maafpun ia belum pernah. Saya kasihan anak saya, tapi , saya juga perlu sehat lahir batin. Putri saya merengek agar saya kembal rujuk dengan ayahnya....
Tidak. Kalau saya rujuk kembali, berarti saya harus mengabdi kembali kepada ibu mertua saya, dan ipar-ipar saya punya kesempatan lagi untuk menindas saya....," Ibu Lisye  terisak.

Ibu Lisye adalah teman baik saya, usianya lumayan  rada jauh di atas saya. Karenanya, saya menuliskan cebuah cerpen, hadian buat Ibu Lisye.

Hanya saja cerpennya rada lebai, dibuat dramatis gitu lhoooo.  

baca ya cerpen mini saya di Kompasiana. 

FIKSI: aku pulang menjelajahi kemarau.... Kompasiana

Senin, 01 Juni 2015

CERPEN: Ibuku.... Sang Octopussy


Lembayung senja  tiba-tiba  memucat, berganti menjadi tetesan  gerimis. Burung-burung berarak ke arah rumpun  bambu, tepat  di ujung barat areal persawahan. Bocah kecil itu masih terisak pedih. Anak perempuan itu tampak kebingungan.
           

Saat gerimis berubah menjadi  gemuruh angin  dan petir,  tangisannya kian kelu. Dalam kecemasan  bocah  itu  menatap  kegelapan yang mulai menyelimuti persawahan itu. Tubuhnya menggigil kedinginan.

“Ibuuuuu… ibuuuu…,” isaknya  sendu.


Dari kejauhan sebuah  mobil terseok tepat di atas jalan aspal yang tak jauh dari persawahan. Mobil itu berhenti. Seorang lelaki muda  membuka pintu dari balik kursi kemudi. Ia berlari ke arah bocah kecil itu, menggendongnya dan  bergegas memasuki mobil. Spontan tangisannya kian mengeras.
           
“Yanka, ayah mencari-cari kamu,  ya Tuhan,  untung ayah tahu kebiasaan ibu membawamu ke sawah, “  lelaki itu menjalankan mobilnya.


“Yanka mau ketemu ibu, Yanka kangen ibu,” tangisannya  semakin mengiris-iris  hati ayahnya.


“Ayah juga rindu ibu sayang,  kita berdoa kepada Tuhan, supaya ibu cepat pulang”.

*  *  *


Cerita sedih itu , adegan memilukan tersebut, sangat jelas terekam dalam ingatanku. Padahal usiaku saat itu masih 4 tahun. Yanka, gadis kecil itu adalah aku. Dan lelaki muda itu adalah ayahku.

Itu adegan  25 tahun yang lalu. Sudah sangat lama, saat kota Bandung masih   memiliki banyak  areal persawahan. Dan banyak kompleks rumah-rumah baru yang  bersebelahan dengan sawah yang indah.

Selanjutnya, Yanka, atau diriku  yang kehujanan itu tetap sedih nelangsa. Kala  itu, kami pulang ke rumah yang berantakan bagai kapal pecah. 

Adik bayiku, tidak ada di rumah. Ayah menitipkannya di rumah teman ibu. Aku dititipkan di rumah tetangga saat ayah ke kantor.Setelah ayah pulang aku dijemput.

Entah , rasanya tak ingat sudah berapa lama  ibu tak ada lagi di rumah kami. Tapi sore itu aku tak tahan lagi dititipkan di rumah tetangga. Hasratku kabur dari rumah tetangga tak tertahankan. Kaki keilku  lari dan berlari ke areal sawah. 

Biasanya ,  ibu kerap mengajakku jalan-jalan dan bermain ke lahan- lahan kosong tepian sawah. Kami menumpang duduk di pondok (dangau) beratap rumbia dan berlantai bambu. Ia bawa sebungkus nasi kepal , dan menyuapiku di sana

Tentang makan makan siang, pagi atau sore, ibu bisa menghabiskan waktuhanya untuk membujukku supaya tetap makan. Kadang aku mengulum nasi terlalu lama, sehingga tugas ibu menyuaoi aku bisa menghabiskan waktu lebih dari satu dua jam. Apalagi jika ada sayur yang masuk mulutku, semakin sulit aku makan. Lagi-lagi  aku lihat wajah letih itu merayuku supaya tidak melepeh makanan.

Ingatanku  tentang ibu, adalah keseharian  rutinitasnya. Ada samar suara dari dapur  sudah  terdengar. Jauh sebelum azan subuh  berkumandang.  Suara pompa air, dentingan piring periuk dan wajan. Atau suara tahu dan tempe di atas kompor.

Pernah aku terbangun dan ingin ke kamar mandi. Saat azan subuh ibu sudah memanaskan air sepanci besar di atas kompor, lalu dijerang ke dalam baskom. Untuk ayahku mandi. 

Sebelum azan bahkan aku dapat menghirup bau masakan dan kopi panas untuk ayah. Meja makan sudah rapi dengan masakan lengkap. Seumur aku tinggal bersama ibu, belum pernah ibu bangun pas azan , apalagi setelah azan subuh, dan belum pernah sekalipun terjaga menjelang matahari terbit. Ibu selalu dan senantiasa bangkit menuju dapur  pasti  saat hari masih gulita.

Bahkan aku belum pernah melihatnya tertidur kembali setelah semuaya beres. Jangankan tidur, duduk berleha pun hampir tak pernah. Karena aku akan memaksanya untuk terjaga  menemani aku bermain, mengobrol denganku, atau  membacakan aku cerita.

Jika ayah sudah berangkat kerja  biasanya  ibu  menyuci pakaian, ia mengajak aku menjemurnya. Paling seru saat bisa juga ikut-ikutan  ibu membersihkan rumput, menanam sayuran dan bunga-bunga di halaman depan, menyapu lantai, membersihkan selokan..

Sampai kisah sedih itu bermula.  Ibu seperti tak lagi bertenaga.  Aku jadi sering meraung-raung enangis karena ia  kerap tak menggubris keinginanku untuk bermain di lapangan dengan sawah. Wajahnya pucat, ibu  muntah-muntah. Ia juga kerap menangis diam-diam. Aku suka menyeka airmata ibu. Lalu perut ibuku makin hari makin membesar, kata ibu ada adik  di dalamnya. Lantas aku ikut ayahku  ke rumah sakit. Dan  aku sempat di titipkan di rumah uakku.

Wak Iren adalah kakak perempuan ayah. Entah kenapa aku kurang suka padanya. Hatiku merasa ia kurang sayang kepadaku, dan suka mengejek ejek dan menertawakan  ibuku. Kadang aku lihat Wak Iren mencibirkan bibirnya ke arah ibu , saat ibu membelakanginya. Kenyataan buruknya, aku dititipkan di rumah Wak Iren.  Lalu ayah menjemputku dan kami pulang ke rumah.

Ibuku lalu  sibuk menyusui adik bayi. Memandikannya, menyuapinya. Meski ia sering meringis kesakitan, dan matanya banjir oleh  linangan kesedihan.  
Aku merasa sedikit aneh, tetangga sebelah kami sehabis melahirkan  sampai  seminggu  dibantu orang lain agar pulih kesehatannya. 

Sementara ibuku, baru saja 2 hari pulang dari rumah sakit, sudah kembali rutinitas kerja. Malah sekarang ia seperti bingung dan kewalahan, antara menyusui Adik bayi, menyuapi aku, melayani ayah, mengurus rumah. 

Ayahku seperti biasa kembali sibuk  bekerja. Pulang larut malam, bahkan sering keluar kota. Lama kelamaan aku  merasa terlantar. Ibu sibuk mengurusi adik bayi , mengganti popok, menyusui, dan semua pekerjaan ibu yang tak ada habisnya. Sedih sekali, rasa kehilangan ibuku karena hadirnya mahluk manis , bayi mungil itu. Sayangnya aku merasa terbuang, aku kehilangan semua momen indah bersama ibu. Akibatnya, aku sering marah, menangis, menarik   perhatian ibu dengan menjerit-jerit jika menangis.

Padahal adik bayiku juga sama-sama sedang menangis. Ibuku seperti bingung dan pernah terpeleset jatuh gara-gara aku. 

Ayah sering pulang malam, karena menari tambahan penghasilan dari kantor lain sepulang kerja. Pasti ayah juga letih, karenanya ayah tak pernah membantu menggendong adik bayi yang suka menangis tengah malam, juga tak membantu ganti popok di malam hari.

Sekali waktu nenekku menginap di rumah kami. Malamnya adik bayi menangis-nangis, ibu tampak kelelahan. Ia mengganti popok, menceboki adik bayi, menyusuinya. 

“Andre,  sebagai lelaki kamu sudah mencari nafkah, jadi kalau istrimu bangun malam , itu sudah memang tugas dia. Sudah kewajibannya… Bukan tugasmu membantu istri bangun malam, “ suatu saat aku mendengar Eyang Putri, ibu dari ayahku .

Lain ketika, aku pernah mendengar percakapan Eyang Putri dengan  kerabatnya,  ia menyebut-nyebut nama Vanya. Vanya adalah  nama panggilan ibuku.

Pernah satu ketika kudengar obrolan  Eyang Putri, dengan seseorang. Mungkin teman lamanya. 

“Biar Vanya tahu, berumah tangga itu tidak seindah yang ia idamkan, berumah tangga itu harus mau capek. Yah, harus mencicipi susahnya. Terus terang, saya kehilangan Andre  anakku sejak dia menikahi Vanya. Saya yang melarang mereka untuk menggaji asisten rumah tangga. Mereka harus berhemat. Itu jadi  sebuah latihan untuk menantuku, belajar berumah tangga tanpa pembantu. Seperti saya hari ini. Semua saya kerjakan tanpa bantuan asisten rumah tangga. Padahal saya sudah tua. Meski kami hanya tinggal berdua , dengan suami saja. Tapi fungsi suami sebagai tempat sandaran hati dan jiwa  tak ada, suami bukan teman curhat,  hanya sandaran finansial saja. Itupun  pas-pasan , maklum pensiunan. 
Andre anakku adalah tempat aku curhat,  sebab suamiku boro-boro untuk curhat. Papanya Andre itu galak, sebetulnya kalau bisa sih, saya tidak ingin serumah lagi dengan papanya Andre, sudah capek mengurusi kerewelannya.
Inginnya saya pindah ke rumah Andre saja.  Tapi tidak sekarang, wong  anaknya masih pada bayi dan kecil, malah saya nanti harus ikut mengasuh cucu. Lagipula saya kecewa, cucu saya dari Andre kok ya perempuan semua.
Ini salah istrinya. Dari dulu saya tidak suka Andre menikah, maksud saya tunda dululah  1 atau 2 tahun lagi…..Laki-laki itu menikahnya tunggu di atas 30 tahun layaknya.. Umurnya masih terlalu muda waktu menikah, masih 25”

*  *  *


Aku tak begitu paham  apa yang terjadi saat itu,   melihat ibuku jatuh terpeleset saat ayah tak di rumah. Ibuku menangis seperti kesakitan. Tapi tiba-tiba ia menjadi kuat dan bangkit berdiri ketika adik bayiku menangis. Seperti biasa, dan sudah terlalu biasa, wajah ibu tak pernah kering dari derai airmata. Dan hanya di hadapan ayah saja, ia tampak berupaya tak menangis, tegar dan kuat. 

Semakin waktu bergulir , ibu kian berubah. Tak mampu lagi menghentikan tangis, bahkan saat ayah sudah berada di rumah. Ayah tampak geram dan menahan amarah, karena ibu menangis bahkan di larut malam. Tanpa sebab yang jelas. 

Saat ayah berangkat kerja, drama itu terjadi lagi. Adik bayi kerap rewel menangis, aku ikut menangis, dan akhirnya ibuku hanya diam di sudut ruangan, terduduk sambil terisak-isak sendirian. Tak melakukan apa-apa. Sampai akhirnya tetangga sebelah datang, menggendong adik bayi dan memeluk aku erat-erat. Ibu membanting semua barang di rumah sampai hancur. 

Rasa takut mengepungku, ibu menangis sambil menjerit-jerit, ia  mengamuk. Kusaksikan ibu di balik terali besi dengan tangan terikat. Aku sedih sekali, kutahan tangisku. Ayah menggendong adik bayi , tetangga kami  menuntun tanganku. 
Kami meninggalkannya di sana. Tatap matanya kosong, mata yang tak berhenti menangis itu, menangis dalam sunyi dan kesendirian. Menangis tanpa ada seorangpun yang menyeka airmatanya, apalagi mendekapnya dan melindunginya saat sedih dan kelelahan. Tak seorangpun, bahkan ayahku juga  tidak. 

Kasihan ibuku. Ia membisu dan tak mengenalku. Dengan perasaan tak karuan ,  aku pulang bersama ayah, meninggalkan ibu sendirian, bersama orang-orang yang  tegah berjuang untuk sembuh juga, di  Rumah Sakit Jiwa.


*   *   *


Demikian yang harus aku kisahkan tentang  awal mulanya  kisah sedihku dalam badai dan hujan senja itu. Kenapa aku dititipkan ke rumah tetangga, kenapa adik bayiku juga dititipkan. Kami seperti sebatang kara. 

Ayah mengeringkan tubuhku dengan handuk. Pasti ayah bingung, ia terbiasa dilayani ibu. Pasti ayah kewalahan, ia biasa tahu beres semua urusan anak. Alih-alih ayah menyesali telah mengabaikan ibu, malah ia  sempat berdiskusi dengan Eyang Putri, untuk menceraikan ibu. Dulu, di masa kecil, aku tak mengerti apa itu menceraikan. Dulu aku tak marah, ketika banyak orang yang menyalahkan ibu. 

Namun tetap hati nurani  selalu merindukan ibu. Nelangsa tanpa  ibu di sisiku. 

Sehabis peristiwa  hujan badai  senja itu,  kami kedatangan tamu. Aku menyebutnya Nenek Dini,  adik  sepupu  alm nenek pihak ibuku  , bibi dari ibuku. Ibu memanggilnya Tante Dini. Biasanya,  dulu sekali dia suka bertamu dan bercengkerama dengan ibu. Sayangnya sejak pindah ke luar kota  yang lumayan jauh, beliau tak pernah lagi menyambangi kediaman kami.

Nenek Dini terkejut, sangat marah saat itu. Mengetahui  ibu tak ada di rumah bersama kami. Hari Minggu pagi, ayah mengajak kami dan Nenek Dini menjeguk ibu. Mata ibu masih hampa, diam seribu bahasa. Melihat ayahku  tanpa ekspresi, tapi melihat adik bayi dan aku, ia tetap diam, dan airmatanya mengalir deras. Bahkan ia tak mengenal Nenek Dini. 

Dalam perjalanan pulang, Nenek Dini menggendong adik bayi sambil mengelus-elus rambutku. Sepanjang jalan, terus menitikkan air mata. 

Andre, sebagai suami, cobalah untuk bijak. Istrimu bukan gembel yang kau pungut di jalanan. Ia berpendidikan  dan  memiliki potensi karier gemilang. Pengorbanannya melepas karier untuk menjadi istrimu hargailah.

Ia merasa dirinya bukan lagi istri, tapi pembantu. Ibumu, kakak-kakakmu, marah kalau  kalian punya pembantu. Tapi keterlaluan juga sih. Namanya orang punya bayi dan anak balita, dia juga manusia dong, bukan kuda. 

Ia pasti capek  iyalah. Dia manusia,  bukan mesin. Apalagi sebagai suami kamu sering pulang larut malam dan   ke luar kota. Orang lain kalau  tak punya pembantu, ya suaminya bantu-bantulah…. Kalau tak memungkinkan, apa salahnya membayar pembantu . 

Memang  ibumu suka mengkritik  istrimu. Ibumu selalu memuja dirinya sendiri,  kehebatannya, ibumu bilang ,  dia juga dulu tak punya pembantu. . Mungkin maksudnya,  kalau dia susah, menantu juga harus merasakan susahnya dia.  Meski istrimu punya 2 balita.

Lho, bukannya ibumu walau tak punya asisten rumah tangga, tapi kesehariannya dibantu oleh mertua, orang tua, kakak dan adiknya??? 
Tenaga mereka apa bedanya dengan tenaga pembantu???   

Yang namanya  adik ibumu, mertua ibumu, dan orangtua ibumu,  itu kan membantu. Ya sama saja dengan tenaga pembantu. Lagipula , kalian kan tidak minta siapa-siapa untuk urusan rumah tangga. Uang sendiri, lain halnya kalau ekonomi kalian ditopang oleh orang tua. 

Mana fungsimu sebagai suami, tak melindungi istrimu? 

Lalu   setiap berkumpul keluarga besar , istrimu seperti  mesin yang  terus menerus  memasak karena  masakannya untuk  orang yang begitu banyak. 

Yang bener sedikit dong, dimana-mana juga orang kalau menikah ya ingin bahagia.

Cari ke ujung dunia sana,  ada tidak orang siap dijadikan istri, karena ingin susah. Apalagi demi mengabdi  mengurusi  keluarga besar yang jumlahnya puluhan tak sedikit. Mana rasa perikemanusiaanmu? Ada orang mau dijadikan istri yang punya cita-cita ingin mengurusi selain suami anak dan rumah sendiri?

Kebanyakan ya maunya mengurus suami dan anak sendirilah. Di luar itu, yah pengabdian juga, tapi tidak keterlaluanlah, sebagai  ibadah sajalah, bukan keinginan. 

Dimana-mana juga orang  mau dijadikan istri yang ingin dibahagiakan, bukan ingin disusahkan…. Apalagi untuk dikerjain, yang mana ada yang mau dibegitukan. 

Lagipula, Vanya keponakanku itu berhenti berkarier, demi  untuk anak dan suamilah. Bukan untuk  disuruh  sering-sering melayani keluarga besar, ... .... Bukankah kamu yang menyuruhnya berhenti bekerja?

Lantas kalau berhenti bekerja, wajib menjadi babu di rumah sendiri? Dilarang punya asisten rumah tangga alias pembantu ? Lalu setiap kumpul keluarga besar, ia bertugas  memasak dan melayani orang yang tak sedikit itu jumlahnya. Dan intensitasnya lumayan  sering  ternyata ya.....????? . 

Maaf ya, kalau boleh usul. Katakan kepada mereka yang selalu ingin dilayani, suruh bayar saja pembantu, bukan keponakan tante yang dikerjain. Jangan pedit ah. Yang bener aja, tenaganya  kan terbatas…. Mana perikemanusiaan ?

Atauuuu, kalau mau menghemat tidak  mau bayar pembantu, suruh saja semua anak lelaki di keluargamu  memperistri pembantu….Jadi bisa berhemat ya. 

Jadi sekarang setelah dia gila, kamu mau membuangnya begitu saja? Coba introspeksi diri,  istrimu susah karena terlalu lelah, sakit, belum lagi  terus jadi sasaran  kebencian dan kedengkian  ipar-iparnya. Ia pasti syok, meninggalkan dunia karier yang berlimpah kesejahteraan, dihargai  oleh atasan, punya gaji lumayan, penampilan selalu modis, ada istirahat dan hari libur, bertemu dengan banyak orang di dunia luar sana. Bisa tertawa, bisa mengobrol. 

Lalu semua  berubah total.....Harus melayani. Kerja 24 jam, kurang tidur, tak kenal istirahat, tak ada kawan curhat dan  diskusi, Tanpa gaji, tanpa pujian, tanpa penghargaan, susah istirahat, tanpa liburan. Tak sempat mengurus diri sendiri, hanya melayani. 
Lalu....., pernahkan kamu  sekali sekali saja kamu  ucapkan kata  terimakasih kepadanya? Sepelit itukah kamu?

Itu lho, saudara-saudaramu para pemalas itu. Yang sangat getol menilai-nilai dan menghakimi orang? Sangat piawai dalam soal mengulik membuat daftar kesalahan dan  mengriktik orang lain serta  tidak pernah bosan mencari-cari kesalahan orang??  Kamu biarkan istrimu menangis dalam sunyi, sendirian, bukan hanya perilakumu yang tak berkemanusiaan membiarkan istrimu kelelahan sendiri mengurus kalian dan rumah kalian, tapi juga tangisan letih dan sedih karena ulah saudara-saudaramu itu..... ”

Nenek Dini berapi-api memarahi ayahku. Aduuhh, kasihan ayah. Saat itu aku jadi membenci Nenek Dini.

"Maaf ya Tante, kalau tentang saudara-saudaraku, itu di luar jangkauan Tante. Siapa yang sanggup untuk mengubah manusia...... Memang faktanya begitu adanya. Seharusnya keponakan tante itu harus maklum saja.....,"

"Keponakan? Wanita cantik dan baik itu punya nama, Vanya .Dia rela menjadi istrimu, meninggalkan karier, mengubah dirinya. Melupakan hobinya, bahkan bertahun-tahun ia tak pernah kau ajak berekreasi yang pantas. Sesuatu yang dulu ia miliki , semua sudah ia lupakan demi kamu dan rumah tangga kalian. Dia rela menjadi bulan-bulanan iparnya sendiri......Andreee Andre, betul mereka itu di luar jangkauan. Tapi apakah kamu pernah mengucapkan kata maaf kepada istrimu, atas nama saudara-saudaramu yang tak pernah merasa punya salah dan selalu menyalahkan istrimu? Apa tak bisa kamu bilang maaf dan terimakasih  kepada istrimu sekali sekali , atau satu kali saja dalam setahun???. Bahkan Tante yakin seyakin-yakinnya, saat istrimu sedih menangis kamu bukan jenis manusia yang akan merangkul dan menyeka air mata istri. Kamu sejenis lelaki yang tega membiarkan istri menangis sendirian, pasti  Vanya merindukan dekapan seorang  lelaki yang melindunginya....... Untung Vanya type wanita setia  yang rela berkoban.......Padahal kamu sendiri tahu bukan, begitu banyak lelaki lain yang dulu memburunya ingin menjadikan istri........ Vanya bukan jenis wanita yang mudah berselingkuh.....padahal ia pasti sangat kesepian, ditambah lelah lahir batin, sampai jiwanya sakit dan kewarasannya hilang....Saat ia sedih  , susah dan menangis,..... pasti dalam sunyi dan kesendirian....... Lalu kamu kemana saja? Malah kamu menjauhinya. .........Dengan gampang kamu jawab,  wajar sajalah..... kan kamu sudah banting tulang di luar sana...cari nafkahlah....... Pulang-pulang dilarang mengganggu, termasuk istrimu....... dilarang mengganggu, ...... ."

Ayah masih diam. Nenek Dini suaranya bernada tinggi, pasti sangat  marah kepada ayah. Saat itu , aku merasa tak suka ada orang yang mengomeli ayah. Aku hampiri ayah,  ayah tampak mengusap airmata. 

Jarang-jarang ayah menangis. Memang sih,  aku pernah sekali saja melihat ayah menangis di hadapan ibu, kudengar , ayah berkata  kepada ibu, ia menangis karena rindu Eyang Putri. 
Biasanya ayah menangis tentang hal-hal yag berkaitan dengan Eyang Putri. Mana pernah ayah menangis karena ikut merasakan kesedihan ibu. 
 
Kali ini ayah pasti menangis karena sedih diomeli Nenek Dini. 

"Nenek Dini jahat..... Ayah menangis  dimarahi nenek," aku memaki wanita tua itu. Ayah membiarkan aku memakinya. Sebaliknya nenek Dini malah memelukku.

"Maafkan nenek sayang.....,"

Sakit hati rasanya menyaksikan Nenek Dini mengomeli ayah. Tapi setelah aku dewasa berbalik  , justru aku menghormatinya. Setelah akal dan otakku jalan, yang aku benci justru mereka yang menyakiti ibu.

Aku masih kecil, tapi ingatanku kuat sekali merekam  semua itu. Saat Nenek Dini, bibi dari ibu tersebut dengan sangat marah menyalahkan ayahku.


*  *  *
PULUHAN TAHUN KEMUDIAN

Puluhan tahun sudah berlalu. Puluhan tahun silam juga, aku menyaksikan ibu akhirnya pulang. Perlahan ia mulai bangkit pulih dan sehat, kembali  seperti  Super Woman. Ibuku kembali menjadi Octopussy  hebat.

Akhirnya  ibu mulai sehat kejiwaannya.  Nenek Dini kerap mendampingi ibu, mengayominya. Katanya, ibu tengah merangkak berjuang keluar  dari keterpurukan jiwa.

Setelah aku remaja, aku mulai  bisa mendefinisikan masalah. Kata Nenek Dini, ibuku  terlalu  sering jadi bahan celaan  para ipar,  dan ibu adalah wanita tegar. Ketika ayah  kekurangan menafkahi kami, ibu sangat kreatif  , ada saja jalan ia temui untuk menari penghasilan. Dulu di masa silam, belum ada media sosial,internet belum memasyarakat, belum ada Hape pintar android,  tidak mudah mendapat kerja dan penghasilan yang bisa dikerjakan di rumah.

Ibu bagiku adalah wanita  hebat. Ia menerima pesanan prakarya yang dikerjakan di rumah. Sambil   mengasuh anak, mengajari anak pelajaran, memasak, menyuci pakaian, menyeterika, menyikat kamar mandi, menyapu dan mengepel lantai, mengurus halaman dan taman, menjalankan administrasi rumah tangga, menyetir  antar jemput anak sekolah. Tanpa bantuan asisten /supir/tukang kebun dan yang lainnya. 

Aku sering bangga kepada temanku, saat SMP temanku bertanya, kenapa aku  pintar matematik? Karena ibu juga yang mengajarinya. Sementara ibu orang lain jarang-jarang ada yang pandai mengajari pelajaran sekolah untuk tingkat SMP dan SMA. Paling banter hanya mengajari pelajaran SD  sampai kelas 4 saja.

Ibu  seperti Octopusy dengan tangan yang banyak. Ia bisa melakukan banyak hal, ia jago  berenang, ia juga pintar membuat masakan,  suaranya indah saat menyanyi,  melakukan banyak hal yang ibu lain tak bisa melakukannya. Tapi kalau aku boleh aku katakan, ibuku sangat rajin. Ya daya juang tinggi, rajin, gigih dan tekun.

Kini aku tahu mengapa ada orang  membencinya. Tentu mereka gengsi mengatakan benci ibu karena iri hati. Karenanya mereka selalu mencari kesalahan dan kelemahan  supaya punya alasan untuk mencaci maki ibuku sepuas hatinya.

Ya, mereka rindu menemukan kesalahan ibu, agar mereka bisa sepuas-puasnya melampiaskan kedengkian. Kedengkian yang dibungkus rapat dengan tuduhan-tuduhan kesalahan dan kelemahan ibuku, yang mereka gali dan  cari-cari, dan mereka goreng goreng lalu dibesar-besarkan.

Kata orang, waspada. Kedengkian dan iri hati  bisa membuat  orang jahat semakin kalap dan nekad.

Jika ibu kekurangan uang, aku melihatnya bergadang menjahit  sulaman-sulaman prakarya yang ia terima dari sebuah eksportir. Ia juga menerima jasa analisa keuangan dan laporan pajak yang cukup banyak.

Ia kerjakan hingga larut malam, tapi tetap  memasak, bangun dini hari, menyiapkan bekal  makan siangku untuk sekolah  dan kuliah. Ia tetap  melakukan pekerjaan rumah tangga.

Orang yang tak suka ibu tetap mencapnya,”Si Pelit, kurang banyak memberi”. Padahal ibuku rela  kekurangan uang ketika ayahku harus berbagi dengan keluarga besarnya.

Tapi bukan berarti aku tak pernah bikin masalah juga menyusahkan ibuku sendiri. 
Baru kusesali di masa kini, dulu aku ikut membebani ibuku.

Aku kerap marah dan tak puas dengan masakan ibu, lain kali aku kesal entah  masalah apa saja.  Tapi ibuku selalu penuh maaf, meski ia kadang menjadi keras karena  ingin aku kuat dan tabah dalam hidup. Ia marah kalau aku cengeng dan  patah semangat.

Ya, saat itu, aku beranjak remaja dan jiwaku sedang labil. Kasihan ibu, suka menjadi sasaran emosionalku juga. . 


PULUHAN TAHUN SETELAH AKU BERKELUARGA

Waktu berjalan. Ibu mengantarku ke jenjang pernikahan. Dengan bangga ia mendampingiku di pelaminan. Ia  katakan, ingin aku bahagia.

Kemudian aku dianugerahi bayi. Oh Bahagianya. Tapi , di balik itu,  ternyata memiliki bayi itu berat. Kurang  tidur, kurang istirahat, seolah duniaku  sudah berakhir di  kamar tempat aku mengurusi bayi. Siang dan malam. 

Ya Tuhan,  kini aku  baru merasakan  semua kepedihan ibu. Aku baru tahu rasanya mengurus bayi, dan apa artinya depresi paska melahirkan.

Aku baru tahu rasanya berat menghadapi kedengkian para ipar. Tapi, aku sudah mendapat bekal , yakni  dorongan semangat dan  upaya ibu menyadarkanku untuk kuat.

Terus terang, aku rindu kepada ibuku.  Sangat rindu. 

Teringat  ketika ibu menangis di balik terali rumah sakit jiwa. Ia menangis kelu dan terisak, tapi tak mengenalku. Pastinya, jiwa ibu saat itu remuk redam. Apalagi ayahku belum menyadari, bahwa perilaku ayah dan keluarga besar ayah, paling  berkontribusi mengoyak-ngoyak kewarasan ibu.

Teringat ketika ibusering kelelahan. Banyak tahun dimana ibu menahan kesakitan . Tapi ia tak mau sedikitpun  kehilangan waktunya buat mengurusi kami. Aku , ayahku dan adikku. Ia abaikan kesempatan berobat karena terlalu sibuk mengurusi kami.

Teringat ketika bagaimana ketegarannya   menghadang prahara . Kala ia  dijadikan sasaran fitnah  paman, bibi dan uakku sendiri.

Teringat betapa ia memiliki segala  kepandaian dan keahlian, yang ia gunakan  untuk membantu cari nafkah, pada saat  kami masih  belum berkecukupan. Betapa rajinnya ibuku. Tidak gampang berjibaku mencari nafkah  sambil melakukan semua ururan rumah tangga tanpa asisten dan supir. Tanpa tukang kebun. Plus terjun mengajari anak  yang kesulitan memahami pelajaran sekolah. 

Dan yang paling sedih, teringat ketika ia akhirnya menyerah pada sakit yang dideritanya. Kata ayah dalam pesan yang ayah kirim, ibu seperti kehilangan semangat.

Aku terisak  malam ini. Terkenang kata-kata ibu.

“Kebahagiaan ibu, adalah jika kau menjadi manusia yang disayang Tuhan. Tuhan sayang pada wanita yang kuat dan tabah, bertanggung jawab, punya hati nurani, rajin, gigih  menuntut ilmu,  rajin bekerja dan beribadah, sayang kepada ayah, adik dan siapapun jua.”

Bisikan ibu selalu mengandung optimisme.

Aku menggendong bayiku, anak ke 2 ku. Aku sudah menjadi ibu dan baru bisa memahami  perjuangan ibu saat mengandung dan melahirkanku. 

Apalagi , ketika ia mengandung aku di rahimnya , ayahku   tugas lama ke luar negeri . Kasihan ibu. Pasti bukannya fisiknya saja yang sakit, tapi hatinya juga, jiwanya perih juga.


*  *  *

Malam itu aku  sangat rindu ibu. Tapi  kami terpaut jarak jauh, melintasi benua.  Di seberang samudera  rasa rindu kepada ibu semakin tak terbendung. Rasa bersalah menggempurku.

 Aku menyesal dulu suka memakinya, dan membiarkan ia kelelahan sendiri di dapur .

Jika kumpul keluarga besar ayahku, ibuku andalan untuk menyiapkan masakan bagi seluruh keluarga besar selama beberapa hari. Padahal saat itu diam-diam ibu sudah mulai sakit. Ia menahan kesakitan dan menyembunyikannya. 

Kata dokter, usia ibu tinggal menghitung bulan. Ia tak sadarkan diri. Begitu pesan dari ayah. Mataku basah. Tak sabar aku ingin pulang kembali ke tanah air. Di seberang samudera ini aku harus mendampingi suamiku bertugas. Beruntung akhirnya tiba waktu kami kembali ke tanah air  . 

Aku tertidur di sebelah bayiku.  Menunggu  waktu pulang ke tanah air, aku rindu ibu.
Akhirnya waktu yang kunanti tiba. Kesempatan pulang ke tanah air, melepas rindu kepada ibu.
Indonesia aku pulang. 



*   *  *

Kami bergegas ke rumah sakit tempat ibu dirawat. Langsung setelah  perjalanan berjam-jam  dari bandara. Sudah kucatat nomor kamarnya. 

Dan aku jatuh pingsan , karena ternyata  ranjang dan kamarnya nya sudah kosong. Hanya tempat tidur yang rapih dan membisu. Dalam ketidak sadaranku, berkelebat mimpi-mimpi aneh. Mimpi buruk dan kenelangsaan batin.  Semua menjadi sangat gelap. 

“  Yanka sayang, bangun nak…,” suara ibu. Ibu? 

Oh, alam kematiankah ini. Bukankah ibu sudah tiada? Aku juga sudah mati?

Perlahan mataku mulai menyapu ruangan. 
Aku lihat suami, anakku, adikku, ayahku, semua ada. Dan ibu…ya Tuhan, benarkah ini ibu? Ia membelai dan mengecup keningku. Rambut memutih,  kulit keriput, tapi ia tetap cantik. Meski tampak letih dan lemah. 

“Iya, alhamdulillah, ibu mulai sembuh nak……. . Seperti kata ibu, kita tidak boleh menyerah pada kekalahan. Ibu harus kuat dan sembuh untuk kalian, kasihan ayahmu , kasihan adikmu, kasihan cucu-cucu ibu…..”

Aku bersujud syukur ,memeluknya. 

“Ibu.., kau memang Octopussyku tersayang, dengan sejuta kekuatan yang entah selalu kau dapat darimana.. Pasti kau minta kepada Tuhan…"

Ibu orang baik, yang berhati bersih, tapi tak pernah berkoar mengaku-aku dirinya manusia  berhati bersih, padahal hati ibu seputih pualam…..

Ibu…terimakasih ibu mau berjuang untuk sembuh. Yanka sekarang sudah  pulang bu, dan  tak mau lagi jauh dari rumah ibu….. Maafkan Yanka bu, kalau Yanka dulu suka  semena-mena pada ibu…Yanka kangen,” aku memeluknya sekeras mungkin.

Terimakasih Tuhan, aku masih bisa memeluk ibuku  ,yang tangan keriputnya terasa lembut, yang  tulang lemahnya terasa menguatkan, yang suara  seraknya begitu merdu, yang semangatnya selalu bersinar, untuk ayahku, untuk adikku, untuk cucu-cucunya.

*  *  *




Yanka anakku sayang,  hidup ini pelajaran. 


Jangan menjadi bodoh. Ingat,   ada batasnya pengabdian mengurus orang lain  di luar mengurus anak dan suami…. Karena  kesehatanmu juga penting untuk suami, anak-anakmu, mungkin cucu kandungmu sendiri kelak….Masa depan masih panjang...... 

Jangan biarkan  orang-orang menindasmu atas nama pengabdian…….
Kalau kau sakit, anakmu terlantar,  apa kau tega  anakmu dalam pengurusan orang lain?  Jangan sampai pengalaman sedih ibu terulang lagi……

Sebagai pelajaran, jangan pernah menjadi manusia berwatak tidak adil dan sulit, jangan pernah menindas orang lain  . 

Menolong orang ada batasnya. Ketika orang yang kau bantu dulunya terlalu lama bermalas-malasan.  

Ketika orang yang kau bantu terlalu lama berleha-leha , pikirkan baik-baik, sementara kauu banting tulang sampai sakit….
Siapa lagi yang akan menyayangi tubuhmu selain dirimu sendiri… Anak dan suamimu ingin kau sehat

Jangan pernah mengorbankan kesehatanmu untuk orang yang masa mudanya serta  jam tidur yang terlalu panjang, yang jam kerja dan berjuangnya terlalu sedikit di masa silam.
Jangan pernah besar pasak daripada tiang, Sesuaikan belanja dengan penghasilan. Mandirilah dalam hidup anakku sayang. 
Jaga kesehatan  dirimu,  suami dan anak cucumu membutuhkannya.  Jangan berharap orang lain perduli dengan kesehatan dan kesejahtraanmmu, kebanyakan orang hanya perduli dirinya dan kelompoknya sendiri, walau harus mengorbankan orang dan kelompok lain.


Jangan sampai kita harus  banting tulang di hari tua, padahal itu karena di  hari-hari muda mereka , terlalu banyak jam santai dan tidur. Jangan sampai  setelah kepepet tua baru kerja keras. 
Jangan sampai kerja keras   baru dilakukan menjelang usia senja, hampir terlambat.
Dan orang seperti itu , biasanya takkan berhenti mengkambinghitamkan  orang lain. 

Terimakasih Ibu , untuk menjadi kuat karena aku anakmu. Tuhan menyayangmu , selalu , aamiin. 


           
           
           

             

Sabtu, 02 Mei 2015

cerpen misteri, mystery short story, mystery fiction






Cerpen 
Tgl 9 oktober 2013

Sahabat dari Dunia Lain (1)

            Sahabatku, Kinandari namanya, wanita dari dunia lain. Teman bicara, kawan diskusi, yang  gemar datang  di larut malam, terutama saat purnama raya  tengah benderang. Ia datang membawa  berbagai topik pembicaraan, mulai dari masalah sosial, ekonomi, budaya , seni , sejarah, sampai ke urusan teknologi masa kini. Aneh bin ajaib memang. Tapi begitulah kenyataannya.

            Sahabat satu  ini, kerap menyodorkan  ide-ide  segar, sekaligus mengilhami   karya-karyaku. Sehingga sebagai penyair, hampir kebanyakan puisi karyaku, dan fiksi yang kubuat, sebenarnya  selalu berdasarkan ceritku dengan sahabatku ini.


Kinandari, ada kesamaannya dengan manusia. Ia kadang gembira, kadang sedih. Layaknya seorang sahabat, kerap  berbagi suasana hati denganku. Adakalanya ia  tergelak tawa riang, senyum bahagia, lain ketika  terisak sendu di hadapanku. Sangat manusiawi, meski ia bukan manusia.

            Aku tak pernah bisa menyentuhnya, atau  menggenggam jemarinya. Sosoknya  lebih menyerupai  sebentuk bayangan , atau segumpal awan yang  berubah wujud menjadi bayangan  mirip manusia. Kehadirannya juga menebar  wangi bunga. Jika kusamakan dengan  film-film horor,  pantasnya  serupa dengan sosok hantu. Bedanya, wajahnya tidak mengerikan, matanya teduh dan sayup, senyumnya tidak menyeringai, penuh kedamaian.

            Selalu kehadirannya mengejutkanku, kadang tiba-tiba ia sudah duduk di sampingku saat aku  di pejalanan. Bisa jadi kala aku sedang menikmati sarapan dan makan malam di sebuah café ia menyapaku. Atau  saat aku tengah duduk melepas pandang di bingkai jendela  hotel tempat berwisata. Ia bisa datang di waktu berbeda , di tempat berbeda. Tapi waktu yang paling sering ia  muncul adalah di tengah malam, saat purnama raya menerangi malam.

Ia mengajakku berdiskusi , bertukar pikiran soal  kehidupan. Ia mengkritisi maraknya kepalsuan dan  manusia yang semakin  kehilangan nurani. Katanya, manusia semakin tidak manusiawi, lebih condong berhati serigala. 

Lain ketika ia katakan,  manusia senang  memakai topeng demi mengejar kesenangan dunia semata, dan tak peduli lagi walau harus mengorbankan manusia lainnya. Mereka berfoya-foya di atas kemiskinan dan penderitaan orang lain. Herannya, yang tidak baik malah sering disanjung dan berbondong-bondong mendapat dukungan. Manusia juga  kadang seolah  tampak tidak baik, dan orang sekitarnya menciptakan kesan seolah ia tidak baik, tapi sesungguhnya justru dialah orang baik.

Kegusarannya juga semakin tampak ketika ia bicara soal rivalitas  yang tidak sehat,  persaingan yang tidak fair, penilaian yang tidak objektif di segala bidang. Bahkan sumber daya manusia yang semakin  tidak terasah dengan baik.

“Tapi saya lebih aneh lagi, ternyata manusia ada juga ya  yang tinggal di negeri lain, namanya negeri   MINTA-MINTA”

“Banyak manusia mengatakan terpaksa mengemis karena susah cari kerja, tapi ketika ditawari pekerjaan, malah tak memiliki kemampuan apapun. Bahkan niat untuk bekerjapun tidak. Maunya pilih pekerjaan yang enak, nyantai, tapi gajinya besar. Gengsi dan tak mau kerja kasar.  Ada yang mengatakan saya tak punya uang untuk sekolah, tapi ketika disekolahkan gratis, tidak serius….malas belajar, malas berpikir, dan rendah daya juang…… Ada yang sudah diberi kerja, tapi tidak kerja dengan disiplin dan sungguh-sungguh, kerja asal-asalan saja….. ”

“Manusia di negeri MINTA-MINTA juga aneh, katanya tak punya uang buat makan, tapi buat beli pakaian mahal  kok bisa ya?”

“Di negeri MINTA-MINTA yang suka menadahkan telapak tangan bukan hanya orang miskin, tapi orang kaya juga. ……Minta fee, minta komisi, minta uang dengar, minta uang suap, minta uang terimakasih…….”

“Pssssst, sahabatku…..stop… stop… Berhenti menyindir bangsa manusia….  kadang kamu kelihatan begitu pemarah……, kadang kamu bijak, kadang kamu  seperti sifat manusia, ceria, labil,….hanya saja kalau sedang menggebu-gebu  seperti itu aku  suka  cemas…..  ” aku meredakan ucapannya yang terkadang jadi terlalu lebai. Sepertinya ia begitu gundah dengan segala ketidak adilan di alam manusia.

Jangan dihentikan pembicaraanku. Aku masih punya cerita, manusia dari  negeri  INJAK-INJAK. Sejumlah manusia lain , suka mencari popularitas dan keberuntungan dengan memeras dan memperalat orang lain, juga menunggangi orang lainnya. …. Mencuri ide dan gagasan orang, diakui sebagai karya sendiri, haus pujian dan popularitas. Atau  menggaji pegawai dengan upah sekecil mungkin sambil  menguras tenaganya semaksimal mungkin…….”

“Lebih parah lagi negeri BABAD TANAH DAN  AIR, yang  tanah suburnya digunduli, disulap jadi  belantara beton, ….tanahnya  keropos dan amblas lantaran   disedot habis-habisan  air tanah dan  minyak buminya, manusia begitu rakus mengeksploitasi alam. , membabad dan membakar hutan, mengeruk mineral, mencemari sungai dan laut…….”

“Stop stop…… Kinandari,  ,  berhenti terus menyindir  kami manusia..    Tidak ada yang namanya negeri MINTA-MINTA  atau negeri INJAK-INJAK….. tak ada negeri BABAD TANAH DAN AIR …… “
Betul , itu memang sindiranku saja…..Gusar aku  dengan ketidak adilan…. “ Kinandari menggerutu.

“Lho, hantu cantik, ketidak adilan itu di dunia manusia, kenapa harus kamu yang pusing?” aku  bertanya.

Dari dulu aku sudah bilang aku ini manusia…. Sudah pasti aku  merasa galau dengan kondisi akhir zaman yang  antara kebenaran dan kebatilan  semakin samar… Sudah pasti aku tak nyaman… Rasanya aku ingin  bangkit menegakkan kebenaran… Tapi apa artinya aku, hanya seorang gadis  , belia, belasan tahun…… bukan siapa-siapa… tak punya apa-apa……   Manusia kebanyakan….,” kembali ia menggerutu.

Aku  tertawa geli. Sangat geli, inginnya terpingkal.  Tapi kutahan. Takut sahabat gaibku tersinggung, karena wajahnya memang sedang tidak  nyaman. Kalau ia tersinggung, aku takut ia tak mau datang lagi  menjadi sahabat jiwaku. Tapi harus kuberanikan diri mengingatkannya.

“Kinan, maaf..maaaaf sekali lagi. Aku hanya ingin  menyadarkanmu, sesekali kamu  keras kepala hantu cantik. Jelas-jelas kamu bukan manusia, kamu tidak punya jasad seperti kami yang bisa disentuh. Kamu tak perlu makan, minum, ….. Kamu hanya sebentuk roh , yang melayang ke sana kemari, bisa  muncul dimana saja, kapan saja, terutama di  tengah malam…. Saat bulan purnama….”  , aku mengingatkannya.

Sejak lama aku kan sudah bilang, aku ini manusia…Sekali lagi, camkan, aku bukan  hantu , bukan juga sosok gaib , AKU MANUSIA.  Selama ini kamu suka membakar dupa, menyiapkan sesaji bunga putih yang wangi, kamu bilang untuk menghormatiku…  Aku tak perlu sesajen  seperti itu. Rasanya gerah ketika orang menyebut-nyebut aku sebagai  sosok dewi dari alam lain, atau cerita-cerita yang tak masuk akal….Karena aku manusia biasa……, kamu sahabatku…. Ketika orang lain berlebihan menilaiku, menjadikan penampakanku sebagai bahan mitos yang tak jelas, dilebih-lebihkan, justru aku berharap sahabatkulah yang mengerti…. Aku ingin sebagai sahabat, kamu meluruskan , bawa aku bukan  mahluk dari dunia lain, tapi manusia biasa….” Kinandari masih berkeras.

“Baik , baiklah,  Kinandari,  penampakanmu ini juga tidak masuk akal, aku hanya ingin kamu sadar Kinan, bisa jadi dulunya  kamu manusia, tapi sekarang bukan lagi…..”

Kenapa kamu tak pernah mau percaya kepadaku? Kalau begitu , selamat tinggal sahabatku. Suatu saat  nanti kamu akan berubah pendapat, dan menghentikan sesajen-sesajen  yang tak perlu ini, dan kamu dengan  leluasa akan mengatakan, bahwa Kinandari itu manusia biasa…..”

“Tunggu Kinan, kamu marah ya? Dulu , puluhan tahun silam, waktu waktu penampakan pertamamu di kediamanku, di usiaku masih 11 tahun. Usiaku  masih kanak-kanak, kamu  bilang aku bakalan menjadi penyair . Kamu minta aku menulis puisi tentangmu….. Maka lahirlah puluhan puisi yang terinspirasi persahabatan kita, syair yang aku tulis… begitu banyak  kamu mengilhami karya-karyaku…Aku yakin, kamu  mahluk dari dunia lain yang tersesat ke alam manusia…. dan amnesia…. Menyangka  bahwa kamu adalah manusia, karena kamu terobsesi alam manusia……”

Susah aku menjelaskan… Kamu tak percaya kalau aku manusia, karena wujudku seperti segumpal awan, kabut, dan bayang-bayang. Karena aku  datang di usiamu 11 tahun, lalu berlanjut , hingga usiamu 20tahun, 30 tahun dan selanjutnya. Aku beberapa kali minta kau buatkan syair tentang diriku, kau membuatnya, lalu buku kumpulan puisi itu  meledak di pasaran…. Lalu kamu berpikir aku adalah mahluk gaib pembawa hokie…. Tapi aku ingin berkata, aku ini  manusia…. manusia biasa ……,” ucapannya penuh keyakinan.


“Kinandari, kasihan kamu sahabatku…. Sadarlah, siapa kamu. Aku punya teman paranormal, yang mengatakan kamu titisan  Dewi Bulan, atau putri raja  purbakala yang sudah tiada, dan bukan manusia. Seorang familiku yang indigo juga mengatakan, kamu hantu yang terjebak di alam manusia….. Manusia biasa tidak mungkin terus muda umurnya, sejak aku usia 11 tahun  menyaksikan penampakan pertamamu. Dan sampai hari ini kamu tidak berubah wujud, masih gadis belasan tahun. Aku beranjak remaja dan dewasa, tapi kamu tidak…. Aku bisa melihat kamu, orang lain tidak….. Sadarlah Kinandari…..”



Untuk  ke sekian kalinya , jujur saja, aku ini manusia.  Tak apa kalau kamu tak pernah percaya. By the way, terimakasih untuk persahabatan  kita selama belasan tahun, terimakasih untuk syair-syair indahmu….. Tahukah kamu,  aku tak pernah absen membeli dan mengkoleksi semua kumpulan syairmu…. , dan tolong buatkan syair lagi untukku, bahwa kau sudi mengakui… aku ini manusia…,” Kinandari  menutup pembicaraan.

Aku melihat kesenduan di sorot matanya, kecewa. Tapi aku  tak bisa mengamini ‘kebodohan’ Kinandari yang berkeras kepala, tak mau mengakui bahwa ia  mahluk halus dari  dunia lain..

***

Semenjak perdebatan itu, Kinandari lenyap ditelan waktu. Aku merasa sangat kehilangan, nelangsa , sedih, dan menyesal. Tahun-tahun yang suram, Kehilangan sahabat dari dunia lain, yang tersinggung karena ogah  disebut  mahluk halus, inginnya disebut manusia biasa.

Tapi aku tetap menulis  puluhan puisi, dimana saat menulisnya aku selalu terkenang  Kinandari. 

Tak seorangpun tahu,  dalam setiap permainan kata, aku tak bisa  menghapus Kinandari dalam menulisnya.

Sampai  di suatu senja yang  suram,  aku  dikejutkan oleh sepasang manusia yang  datang untuk  santap  malam menghampiri  meja cafetaria pada satu penginapan. 

Kebetulan aku duduk di meja sebelahnya. Wanita muda  tersebut  begitu mirip dengan Kinandari. Hanya sedikit lebih tua mungkin.

Jantungku berdegup semakin kencang ketika lelaki di sampingnya itu memanggil dia  dengan panggilan “Kinan”. Dan semakin  berguncang  nafasku mendengar kata-kata seorang pelayan mengantarkan  bingkisan kepada  wanita itu.“Mbak  Kinandari, ini ada  titipan dari tamu yang datang kemarin……… dari Ibu Desi..,” ujar pelayan tersebut.

Betulkah  dia jelmaan mahluk halus sahabatku, menjadi manusia?

“Terimakasih…” wanita yang disebut sebagai Kinandari itu menerima benda dari  pelayan tersebut. Mengembangkan  sebentuk senyum.

Lembayung senja semakin  merah. 



L
Ketika lelaki itu beranjak meninggalkan wanita tersebut, mataku   masih berupaya mencuri pandang. Ia tengah memeriksa isi bingkisan yang baru diterimanya.

Tak lama kemudian wanita itu mengemasi barang-barangnya  melangkah ke arah lobby penginapan. Ia berjalan perlahan, tiba-tiba terhenti langkahnya dan berbalik arah, berpaling kepadaku.  Wanita itu mendekatiku, dan  tersenyum tipis

Nirlambang, anda penyair bukan? Saya suka dengan puisi-puisi  anda. “ suara itu, suara  yang tidak asing lagi. Suara mahluk halus sahabatku.

“Kinandari….? Kamu Kinandari? Betulkah?“

BetulSaya memang Kinandari, dan   saya juga  manusia. Manusia biasa…. Ada  cerita yang ingin saya sampaikan, kali ini saya tidak akan mengkritik kehidupan, tidak lagi mengkritisi keadaan dan lingkungan…. Saya ingin  anda tahu, bahwa ternyata, yang pertama harus saya kritik dan perbaiki…adalah diri saya sendiri dulu.

Memperbaiki kehidupan sangat mustahil  tanpa memulai dengan membenahi moral sikap dan perilaku diri  saya sendiri…..  Terimakasih sudah mau mendengarku…..selamat tinggal penyair yang baik hati…..,”ia berpamitan. Menjauh, berjalan ke arah lobby, menuju lapangan parkir, pergi bersama lelaki muda tadi.

Sejenak kugaruk kepalaku,  memijat keningku, mencubit lenganku…Bukan, ini bukan mimpi . Ini jelas kenyataan, Kinandari baru saja menyapaku dan pergi……….. Sahabatku dari dunia lain… Dan aku sudah kehilangan dia, karena aku tak pernah mau mendengar  dan percaya kepadanya..

 Aku tidak bermimpi, karena Kinandari memang manusia biasa adanya. Begitu nyatanya, meski  sangat membingungkan,  pertanyaan yang tak pernah terjawab sampai kapanpun…… (1982-2013)
           




Cerpen:
Sahabatku Dari Dunia Lain (2)
Pengakuan Kinandari


            Cerita Sahabatku dari Dunia Lain (1):

            Penampakan bayangan seorang wanita bernama Kinandari terjadi saat  tokoh aku (Nirlambang)  berusia 11 tahun, dan berulang terus saat ia sudah remaja, bahkan dewasa. Sahabat wanita dalam penampakan tadi  tidak ingin disebut sebagai mahluk halus, dan selalu ingin diakui sebagai manusia. Sampai suatu ketika , Nirlambang dikejutkan oleh sesosok manusia bernama Kinandari. Manusia   biasa. Tidak berwujud segumpal  awan, atau sebentuk bayangan. Tapi  manusia sungguhan.

            Kinandari yang kutemukan pada hari ini adalah manusia sejati.  Bagaikan terjaga dari alam mimpi,  wanita itu akhirnya duduk di hadapanku. Ia  bersedia membuat janji.  Untuk menjawab semua misteri  yang ia  toreh dalam kehidupanku. Betapa tidak, selama puluhan tahun aku memiliki keyakinan bersahabat dengan sejenis peri dalam dongengan.  Bahkan aku lebih suka menyebutnya  sebagai bidadari  dalam impian. Karena dalam setiap pertemuan kami dulu, saat kami  berbincang-bincang, aku merasa ada di antara  sadar dan alam mimpi.  Perbatasan dua alam yang sulit  kumengerti.

            Dengan mengenakan gaun batik , warna merah muda keunguan, ia tampak mengesankan. Gerak-geriknya  penuh kerendahan hati, dan senyum  tulus penuh penghormatan. Kembali aku meyakinkan diri,  bahwa aku tidak sedang bermimpi.




            Aku bisa merasakan matahari pagi dari balik mendung, dan semilir angin sepoi-sepoi menyapu  wajahku. Harum daun mangkokan dan  bunga-bunga ilalang terhirup sampai nafas terdalam. Tak ada harum bunga melati seperti biasanya dulu Kinandari  datang di tengah malam saat purnama raya  menerangi  sunyi.

            Suaranya sangat jelas menyerupai suara Kinandari yang selama ini aku kenal. Yang biasa hadir dalam sebentuk bayang yang selalu didahului  keharuman bunga melati. Hanya saja wajahnya jauh lebih dewasa, kalau aku boleh katakan lebih menua. Aku bisa melihat sepasang mata bijak,  dari balik kacamatanya.

            Kami sempat terkesima, membisu. Angin kencang dan mendung menjelang gerimis pagi  di bulan Januari. Duduk di selasar  bungalow  pegunungan.

            “Rasanya seperti mimpi. Kinandari,  ternyata kamu betul-betul manusia sejati…… Bagaimana bisa? Selama ini kamu menjadi bahan pembicaraan  rekan paranormalku. Mereka berkeras bahwa  kamu adalah sosok  dunia lain yang menjadi  buah bibir dan cerita turun temurun…. ,” aku kembali  menggelengkan kepala.
            “Mungkin, yang menjadi buah bibir rekan paranormalmu bukan aku, ada sosok lain yang  datang dari dunia lain sungguhan, tapi bukan aku. Dan dia sama-sama wanita seperti aku, tapi bukan aku. Aku adalah aku,  manusia sejati. “ Kinandari menggelengkan kepala. 

            “Lalu, yang ada dalam lukisan milik ayahku, kata ayah itu adalah Kinandari  juga. Kata ayah, kamu juga berteman dengan beberapa tokoh lainnya?” aku masih penasaran.


            “Bisa ya bisa tidak.  Kalau dengan ayahmu, memang aku suka berdialog panjang lebar…..  Tak seorangpun di muka bumi ini tahu, juga tentang pertemuan kita ini. Karena  pertemuan dan persahabatan kita ini tak masuk akal dan logika. Kalau kamu atau aku menceritakannya kepada orang lain,  dijamin kita berdua akan dianggap gila…… Itu sebabnya aku tak ingin menceritakan kepada siapapun …. Hanya kita berdua,” wajah Kinandari mulai menampakkan kecemasan.

            “Lalu bagaimana semua itu bisa terjadi? Dan apa alasanmu untuk datang menemuiku dalam wujud manusia ?” aku masih galau dan bingung.

            “Tuan Nirlambang. …. Akhirnya aku harus mengakhiri  persahabatan aneh kita, dengan sebuah jawaban. Jawaban dari teka- teki yang selama ini  pasti menggempurmu. Aku merasa harus menghentikan  beberapa keyakinan dan kebiasaanmu itu…..  membakar dupa di tengah malam, menunggu purnama raya  keemasan. Harus kuhentikan kebiasaanmu menyiapkan sesajen bunga-bunga wangi……….., yang  kau pikir untuk memanggilku….

Padahal sejak dulu itu tidak berfungsi……. Komunikasi antara kita adalah sejenis telepati yang sulit dipahami  kebanyakan orang……… Kita bisa sama-sama berkomunikasi karena kau juga memiliki kemampuan langka serupa denganku…. ” Kinandari  tampak mulai serius.




            “Tolong jelaskan,  siapa kamu sebenarnya Kinan? Bagaimana kamu bisa memasuki rumahku di tengah malam dalam sebentuk bayangan…. Kamu bahkan sering bercakap-cakap dengan mendiang ayahku semasa hidupnya….. Ayahku menceritakan tentang dirimu…..Waktu itu aku masih kecil, herannya usiamu sudah remaja. Ayahku sangat mengenalmu, …… Kalau menebak usiamu,  dapat dipastikan kamu lahir  menjelang wafat ayahku. Saat ayahku wafat,  usiamu………?”

            “Usiaku  6 tahun saat ayahmu wafat.  Ayahmu seniman besar dan terkenal,  semua orang tahu tahun dikala kabar duka cita itu. Aku sedang berada di luar negeri , stasiun televisi asing memberitakan kabar duka itu…….., ayah ibuku menyimak berita tersebut, aku masih sangat kecil, tapi aku juga ikut mendengar khabar itu” Kinandari tersenyum kecut, dengan mata berkaca-kaca.



)

            Cerita Kinandari

            “Sangat sulit aku menjelaskannya. Bahkan hingga detik ini, tak ada yang tahu kecuali dirimu. Tidak juga orang tuaku, suamiku, dan anak-anakku sekarang. Kejadian misterius itu terjadi  saat usiaku  masih belia, sekitar 16 menjelang  17 tahun. Aku tak tahu, dorongan apakah yang membuat aku  tiba-tiba memiliki pikiran-pikiran  aneh. Semacam ide-ide gila. Di tengah malam bulan purnama begitu indah  di langit.  Ada  getaran   yang membuat aku  yakin bahwa aku bisa terbang……   Dan aku merasakan, bahwa aku memang terbang.. mengawang-awang di semesta raya….. Menjangkau awan,  di antara bintang dan  cahaya rembulan……
            Mungkin karena kebodohanku, di usia belia,  dengan pengetahuan yang minim. Dengan pikiran dangkal, aku  menganggap bahwa aku tengah memasuki alam khayal , atau mungkin juga alam mimpi.
            Sungguh alam mimpi itu tampak  indah sekali. Taman-taman yang indah , telaga dan pancuran air terjun gemericik,  dengan unggas angsa putihnya. Bangunan-bangunan tinggi dengan  peradaban masa lalunya.



Saat itu aku tengah  menembus waktu menuju masa silam. Menyusuri istana-istana dalam sejarah. Bertemu dengan  kehidupan di masa silam, termasuk beberapa dari manusia di kerajaan  masa lalu. Aku juga menemui seniman-seniman besar pada masa tersebut. Termasuk pemahat patung. Sungguh rasanya begitu  leluasa melakukan perjalanan lintas benua dan lintas waktu. Hanya tinggal memejamkan mata, aku melakukannya.

            Beberapa di antara mereka  ternyata bisa melihatku. Mereka bertanya kepadaku, siapa aku. Tentu sulit aku menjelaskan  siapa aku. Kebanyakan dari mereka menganggapku  mahluk halus, siluman, atau dewi dari negeri dewata.

Pernah aku mendatangi masa dimana banyak seniman lukis realis naturalis  banyak berkarya.  Aku hanya terpana menyaksikan   seorang pelukis yang  matanya jelas-jelas  menatap  wajahku.  Pelukis yang berulang kali aku datangi itu ternyata bisa melihatku. Tidak semua orang  bisa menyaksikan kehadiranku. 


            Lantas aku katakan kepadanya  , dapatkah ia mengingat wajahku? Tolong lukis wajahku di atas kanvas. Yang ada dalam kepalaku, aku hanya ingin  bukti, apakah perjalananku ini nyata? Atau hanya  sekedar halusinasiku? Setidaknya  jika aku  lebih sering meminta seseorang yang bisa melihatku  , untuk melukis diriku, suatu saat dalam hidupku,  aku berharap menemukan jejak bukti tersebut.



            Entah berapa banyak orang yang  bisa menyaksikan diriku, yang kuminta untuk melukis dan membuat sketsa diriku. Bahkan aku tak tahu,  di tahun yang mana aku  datang. Manusia yang  kutemukan ada yang di masa sangat silam. Atau bisa jadi di masa depan. Aku sendiri bingung.

            Dalam satu malam saja aku bisa  mendatangi banyak tempat  , banyak masa, dan beberapa  zaman yang berbeda. Sampai di suatu masa  aku bertemu dengan ayahmu di waktu ia masih muda. Ayahmu adalah salah satu manusia yang bisa menyaksikan kehadiranku.  Ia bisa berkomunikasi denganku. Bahkan ia merekam  potret diriku dalam lukisan.

            Dengan senang hati ia menyambutku setiap kami berbincang. Pada saat itulah kau ada di rumah tersebut. Aku terkejut, melihat anak kecil berusia 11 tahun mungkin,  yang memandangku dengan takjub. Anak kecil adalah dirimu. Timbul keisenganku,  bercanda  denganmu. Kamu bertanya siapa aku? Jawabanku, aku bidadari dari timur. Karena setahuku anak-anak kecil suka membaca dongeng. Biasanya anak kecil suka  kisah tentang dewi atau bidadari.

            Aku tak pernah menyadari, bahwa kamu adalah  manusia langka, yang bisa menyaksikan kehadiranku di larut malam. Bisa berkomunikasi denganku lewat cara-cara tak masuk akal logika. Tanpa aku sadari, kita sempat bersahabat.  Selanjutnya aku ingin meminta pembuktian  jejak  perjalanan anehku ini. Aku minta kamu menuliskan puisi tentang diriku.

            Soal aku  bisa mengatakan bahwa kau kelak akan menjadi penyair besar, tentu saja aku bisa melakukannya. Karena aku menjumpai di masa silam, dan aku berasal dari masa kini dimana memang kau sudah menjadi penyair itu.

            Dalam tempo satu malam, aku bisa bertemu denganmu di berbagai  masa. Baik saat engkau kecil,  remaja, dan dewasa,  Padahal itu aku lakukan dalam satu malam saja. Itu sebagai jawaban, mengapa usiaku tetap sama, ketika kau melihat penampakanku di berbagai rentang waktu.

            Selanjutnya, aku  semakin dewasa. Dan mulai menyadari kekeliruanku. Rasa bersalah yang besar karena aku  telah meminta berbagai  manusia di masa silam untuk melukis diriku, dan  menjadi  tokoh penampakan di masa lalu. Mungkin karena aku masih belia dan  selalu ingin mencoba serta bertualang. Tapi hari ini aku merasa itu sebuah kesalahan besar.
Aku mulai ketakutan. Bagaimana kalau yang aku lakukan bukan sekedar khayal? Bagaimana kalau itu kejadian sungguhan?  Sungguh rasanya  aku berdosa jika memang aku bermain-main dengan  lintasan waktu.




            Rasa bersalahku semakin kuat ketika  aku membaca puisi-puisimu, yang kalau boleh kutebak, isinya  mengisyaratkan  pertemuan-pertemuan  gaib kita. Setelah lama kejadian itu, aku   semakin dewasa. Aku sangat takut jika orang  yang pernah melihatku  berpikir salah tentang diriku. Aku kian  terkejut ketika kau juga menganggapku  mahluk  halus, dan kau suka membakar dupa untukku. Lebih mengerikan kalau orang menyediakan sesajen……

            Karenanya, tuan Nirlambang, ijinkan aku memohon maaf atas semua kesalahanku. Aku khilaf, karena usiaku saat itu masih begitu  muda. Usia remaja yang kerap tak berpikir panjang. Bahkan orangtuaku saja tidak tahu itu.
Dunia terkadang  memiliki peristiwa tak masuk akal.  Kita pernah mengalaminya. Kini aku mohon, anggap semuanya sudah berlalu. Maafkan semua kesalahanku, seharusnya aku tak melakukan semua itu……..
           
***

            Bibirku terkunci rapat, lidahku kelu membeku. Tak tahu apa yang harus aku lakukan. Kinandari, nama itu juga suka disebut oleh almarhum ayahku. Ayah dan aku sama-sama mengenalnya lewat cara yang tak masuk akal.

            Kini Kinandari   hadir di hadapanku  bukan sebagai sosok dari dunia lain. Bahkan ia mengatakan, bahwa  persahabatan aneh di masa lalu adalah kesalahannya.  Ia meminta maaf berulang kali kepadaku. Dan memohon dengan sangat agar memegang rapat rahasia ini. Bahkan rekan paranormalku saja tak mampu menjawab pertanyaanku tentang Kinandari.

            Aku sempat merasa kehilangan Kinandari yang lama tak hadir dalam kehidupanku. Dengan penuh harap aku membakar dupa  dan menyimpan sekeranjang bunga putih wangi untuk memanggilnya. Sejenis ritual yang aku pikir   tepat untuk memanggil sosok gaib ke rumahku.



pertemuan kita, Randy Anwar 1985


            Jawaban dari  akhir persahabatan kami memang tak masuk akal. Hari ini ia memberikan semua penjelasan tentang keberadaannya.

            “Aku berharap  semua kisah pertemuan-pertemuan aneh  itu,  menjadi rahasia kita berdua saja. Kita tutup sebagai lembaran lama . Lalu, dengan segala kerendahan hati, aku ingin mohon maaf, bahwa aku pembuat kesalahan itu. Mau memaafkan aku?” sekali lagi Kinandari memohon kepadaku.

            Marah? Merasa dipermainkan? Segala perasaan , kebingungan, rasa heran, berkecamuk jadi satu. Dengan rasa berat aku mengangguk. Memaafkan adalah perbuatan yang  dimuliakan Tuhan. 
            Tiba-tiba senyumnya yang indah dan sejuk terkembang. Ia merunduk dan berterimakasih. Aku melihat kebahagiaan di wajahnya.

            “Terimakasih  sudah memaafkan aku,” ia menghormat dan mohon diri.

            Tak ada acara makan siang bersama,  atau  tanda-tanda persahabatan  kami akan berlanjut. Ia sudah menjadi milik anak-anak dan keluarganya. Di alam  nyata yang sesungguhnya.

            Aku masih diam mematung di sini berkawan sunyi. Sambil mengenang ketulusan hatinya, aku beranjak  pergi, kembali kepada dunia dan kehidupanku.  Kisah  kami hanya akan terabadikan dalam fiksi yang aku buat, dalam prosa liris, atau  kalimat-kalimat rindu di kumpulan syairku.



            






k