Daftar Blog Saya

Senin, 01 Juni 2015

CERPEN: Ibuku.... Sang Octopussy


Lembayung senja  tiba-tiba  memucat, berganti menjadi tetesan  gerimis. Burung-burung berarak ke arah rumpun  bambu, tepat  di ujung barat areal persawahan. Bocah kecil itu masih terisak pedih. Anak perempuan itu tampak kebingungan.
           

Saat gerimis berubah menjadi  gemuruh angin  dan petir,  tangisannya kian kelu. Dalam kecemasan  bocah  itu  menatap  kegelapan yang mulai menyelimuti persawahan itu. Tubuhnya menggigil kedinginan.

“Ibuuuuu… ibuuuu…,” isaknya  sendu.


Dari kejauhan sebuah  mobil terseok tepat di atas jalan aspal yang tak jauh dari persawahan. Mobil itu berhenti. Seorang lelaki muda  membuka pintu dari balik kursi kemudi. Ia berlari ke arah bocah kecil itu, menggendongnya dan  bergegas memasuki mobil. Spontan tangisannya kian mengeras.
           
“Yanka, ayah mencari-cari kamu,  ya Tuhan,  untung ayah tahu kebiasaan ibu membawamu ke sawah, “  lelaki itu menjalankan mobilnya.


“Yanka mau ketemu ibu, Yanka kangen ibu,” tangisannya  semakin mengiris-iris  hati ayahnya.


“Ayah juga rindu ibu sayang,  kita berdoa kepada Tuhan, supaya ibu cepat pulang”.

*  *  *


Cerita sedih itu , adegan memilukan tersebut, sangat jelas terekam dalam ingatanku. Padahal usiaku saat itu masih 4 tahun. Yanka, gadis kecil itu adalah aku. Dan lelaki muda itu adalah ayahku.

Itu adegan  25 tahun yang lalu. Sudah sangat lama, saat kota Bandung masih   memiliki banyak  areal persawahan. Dan banyak kompleks rumah-rumah baru yang  bersebelahan dengan sawah yang indah.

Selanjutnya, Yanka, atau diriku  yang kehujanan itu tetap sedih nelangsa. Wakt itu, kami pulang ke rumah yang berantakan bagai kapal pecah. 

Adik bayiku, tidak ada di rumah. Ayah menitipkannya di rumah teman ibu. Aku dititipkan di rumah tetangga saat ayah ke kantor.Setelah ayah pulang aku dijemput.

Aku tak ingat berapa lama  ibu tak ada di rumah kami. Tapi sore itu aku kabur dari rumah tetangga  dan berlari ke sawah. Dulu ibu sering mengajakku main ke sawah, duduk di  dangau . Ia bawa sebungkus nasi kepal , dan menyuapiku di sana.

Seingatku,  ibu  sangat rajin. Sebelum azan subuh ia sudah bangun,  sebelum matahari terbit meja makan sudah rapi dengan masakan lengkap. Seumur aku tinggal bersama ibu, belum pernah ibu bangun menjelang matahari terbit, pasti  saat hari masih gulita

Lalu ibu  menyuci pakaian, ia mengajak aku menjemurnya. Aku juga ikut-ikutan saat ibu membersihkan rumput, menanam sayuran di halaman depan, menyapu lantai, membersihkan selokan..

Tapi suatu saat  , ibu  muntah-muntah. Ia seperti sakit. Ia juga kerap menangis diam-diam. Aku suka menyeka airmata ibu. Lalu perut ibuku makin hari makin membesar, kata ibu ada adik  di dalamnya. Lantas aku ikut ayahku  ke rumah sakit. Dan  aku sempat di titipkan di rumah uakku.

Uak Iren adalah kakak perempuan ayah. Entah kenapa aku kurang suka padanya. Hatiku merasa ia kurang sayang kepadaku, dan suka mengejek ibuku. Lalu ayah menjemputku dan kami pulang ke rumah.

Ibuku lalu  sibuk menyusui adik bayi. Memandikannya, menyuapinya. Meski ia sering meringis kesakitan, dan matanya banjir oleh  linangan kesedihan.  

Aku merasa sedikit aneh, tetangga sebelah kami sehabis melahirkan  sampai  seminggu  dibantu orang lain agar pulih kesehatannya. 

Sementara ibuku, baru saja 2 hari pulang dari rumah sakit, sudah kembali kerja keras.

Ayahku seperti biasa kembali sibuk  bekerja. Pulang larut malam, bahkan sering keluar kota. Aku merasa terlantar. Lalu aku cari perhatian ibu dengan menjerit-jerit menangis.

Padahal adik bayiku juga sedang menangis. Ibuku seperti bingung dan pernah terpeleset jatuh gara-gara aku. 

Tapi saat ayah pulang juga, ayah tak pernah membantu menggendong adik bayi yang suka menangis tengah malam, juga tak membantu ganti popok di malam hari. Apa sebab? Larena nenekku melarangnya. 

“Andre,  sebagai lelaki kamu sudah mencari nafkah, jadi kalau istrimu bangun malam , itu sudah memang tugas dia. Sudah kewajibannya… Bukan tugasmu membantu istri bangun malam, “ suatu saat aku mendengar Eyang Putri, ibu dari ayahku .

Lain ketika, aku pernah mendengar percakapan Eyang Putri dengan  kerabatnya,  ia menyebut-nyebut nama Vanya. Vanya nama panggilan ibuku.

Pernah satu ketika kudengar obrolan  Eyang Putri, dengan seseorang. 

“Biar Vanya tahu, berumah tangga itu tidak seindah yang ia idamkan, berumah tangga itu harus mau capek. Yah, harus mencicipi susahnya. Terus terang, aku kehilangan Andre  anakku sejak dia menikahi Vanya.

Andre anakku adalah tempat aku curhat,  sebab suamiku boro-boro untuk curhat. Papanya Andre itu galak, sebetulnya kalau bisa sih, saya tidak ingin serumah lagi dengan papanya Andre, udahlah capek mengurusi kerewelannya.

 Inginnya aku pindah ke rumah Andre saja.  Tapi tidak sekarang, wong  anaknya masih pada bayi dan kecil, malah saya nanti harus ikut mengasuh cucu. Lagipula saya kecewa, cucu saya dari Andre kok perempuan semua.

Ini salah istrinya. Dari dulu saya tidak suka Andre menikah, maksud saya tunda dululah  1 atau 2 tahun lagi…..”

*  *  *


Aku tak begitu paham  apa yang terjadi saat itu. Hanya aku pernah melihat ibuku terjatuh saat ayah tak di rumah. Ibuku menangis seperti kesakitan. Tapi tiba-tiba ia menjadi kuat dan bangkit berdiri ketika adik bayiku menangis.

Lantas yang terjadi, ibuku mengamuk. Kusaksikan ibu di balik terali besi dengan tangan terikat. Aku sedih sekali, kutahan tangisku. 

Kasihan ibuku. Ia membisu dan tak mengenalku. Akhirnya  aku pulang bersama ayah, meninggalkan Rumah Sakit Jiwa.


*   *   *

Sehabis peristiwa  hujan badai  senja itu,  kami kedatangan tamu. Aku menyebutnya Nenek Dini. Dia adalah bibi dari ibuku. Biasanya dia suka bertamu dan bercengkerama dengan ibuku. Nenek Dini sangat marah saat itu.

Andre, sebagai suami, cobalah untuk bijak. Istrimu bukan gembel yang kau pungut di jalanan. Ia berpendidikan  dan  memiliki potensi karier gemilang. Pengorbanannya melepas karier untuk menjadi istrimu hargailah.

Ia merasa dirinya bukan lagi istri, tapi pembantu. Ibumu, kakak-kakakmu, marah kalau  kalian punya pembantu. Tapi keterlaluan juga sih. Namanya orang punya bayi dan anak balita, dia juga manusia dong, bukan kuda.

Ia capek  iyalah. Dia manusia,  bukan mesin. Apalagi sebagai suami kamu selalu  ke luar kota. Orang lain kalau  tak punya pembantu, ya suaminya bantu-bantulah….

Memang  ibumu suka mengkritik  istrimu. Ibumu selalu memuja dirinya sendiri,  kehebatannya, ibumu bilang ,  dia juga dulu tak punya pembantu. . Mungkin maksudnya,  kalau dia susah, menantu juga harus merasakan susahnya dia.  Meski istrimu punya 2 balita.

Lho, bukannya ibumu meski tak punya pembantu, tapi kesehariannya dibantu oleh mertua, orang tua, kakak dan adiknya??? 
Tenaga mereka apa bedanya dengan tenaga pembantu???   

Yang namanya  adik ibumu, mertua ibumu, dan orangtua ibumu,  itu kan membantu. Ya sama saja dengan tenaga pembantu.

Mana fungsimu sebagai suami, tak melindungi istrimu? 

Lalu   setiap berkumpul keluarga besar , istrimu seperti  mesin yang  memasak buat orang begitu banyak. 

Yang bener dikit dong, dimana-mana juga orang kalau menikah ya ingin bahagia.

Cari ke ujung dunia sana,  ada tidak orang pingin dijadikan istri, karena ingin susah. Apalagi demi mengabdi  mengurusi  keluarga besar mertua. Apalagi yang punya cita-cita ingin mengurusi keponakan suami, mengurusi ibu ayah mertua, mengurusi kakak adik ipar?

Kebanyakan ya maunya mengurus suami dan anak sendirilah. Kalau  mengurus mertua ya sudah  kewajiban. Mau tidak mau ya kepaksalah. 

Dimana-mana juga orang  mau dijadikan istri yang ingin dibahagiakan, bukan ingin disusahkan….

Lagipula, Vanya keponakanku itu berhenti berkarier, demi  untuk anak dan suamilah. Kalau tau bakalan disuruh  sering-sering melayani keluarga besar, pasti dia mikir seribu kalilah.... Bodoh amat..... Bukankah kamu yang menyuruhnya berhenti bekerja?

Lantas kalau berhenti bekerja, wajib menjadi babu di rumah sendiri? Dilarang ada pembantu karena = dosa besar. Itu masih mending. Khabarnya setiap kumpul keluarga besar, ia   memasak untuk orang yang puluhan itu jumlahnya. Dan intensitas sering sekali ternyata ya.....????? . Yang lain ,  ipar-iparnya,   ongkang-ongkang kaki?

Maaf ya, boleh usul. Coba orang tuamu itu cari saja pembantu,. Jangan pedit ah. Yang bener aja, menantu dijadikan pembantu…. Mana perikemanusiaan keluargamu hah?

Atauuuu, kalau mau menghemat tidak  mau bayar pembantu, suruh saja semua anak lelaki di keluargamu  memperistri pembantu….

Jadi sekarang setelah dia gila, kamu mau membuangnya hah!! Coba introspeksi diri,  istrimu susah karena terlalu lelah, sakit, belum lagi  terus jadi sasaran  kebencian dan kedengkian  ipar-iparnya.
Itu lho, ssaudara-saudaramu yang pemalas itu. Mereka  hobi gosip, pandai mengriktik, serta  tidak pernah bosan mencari-cari kesalahan orang???”

Nenek Dini berapi-api memarahi ayahku. Aduhhh, kasihan ayah. Saat itu aku jadi membenci Nenek Dini.

*  *  *

Sakit hati rasanya menyaksikan Nenek Dini mengomeli ayahku. Tapi setelah aku dewasa berbalik  , justru aku menghormatinya. Setelah akal dan otakku jalan, yang aku benci justru nenek kakekku sendiri, dan uak serta  bibi paman dari ayahku.

Aku masih keci, tapi ingatanku merekam  semua itu. Saat bibi dari ibuku tersebut dengan sangat marah menyalahkan ayahku.

PULUHAN TAHUN KEMUDIAN

Puluhan tahun sudah berlalu. Aku menyaksikan ibu akhirnya pulang. Perlahan ia mulai pulih dan sehat, kembali  seperti  Super Woman. Ibuku menjadi Octopussy  hebat.

Akhirnya  ibuku mulai sehat kejiwaannya.  Nenek Dini kerap mendampingi ibuku, mengayominya. Katanya, ibu tengah merangkak bangkit dari keterpurukan jiwa.

Setelah aku remaja, aku mulai  bisa mendefinisikan masalah. Kata Nenek Dini, ibuku  yang sering jadi bahan celaan  bibiku dan uakku  dari pihak ayah,  adalah wanita tegar. Ketika ayah  kekurangan menafkahi kami, ibuku memiliki penghasilan.

Ibuku hebat. Ia menerima pesanan prakarya yang dikerjakan di rumah. Sambil ia  mengasuh anak, mengajari anak pelajaran, memasak, menyuci pakaian, menyeterika, menyetir  antar jemput anak sekolah.

Aku sering bangga kepada temanku, saat SMP temanku bertanya, kenapa aku  pintar matematik? Karena ibuku juga yang mengajarinya. Sementara ibu orang lain jarang-jarang ada yang pandai mengajari pelajaran sekolah untuk tingkat SMP dan SMA. Paling banter hanya mengajari pelajaran SD  sampai kelas 4 saja.

Ibuku  seperti Octopusy dengan tangan yang banyak. Ia bisa melakukan banyak hal, ia jago  berenang, ia juga pintar membuat masakan,  suaranya indah saat menyanyi, dan melakukan banyak hal yang ibu lain tak bisa melakukannya. Tapi kalau aku boleh aku katakan, ibuku sangat rajin. Ya rajin, gigih dan tekun.

Kini aku tahu mengapa ipar-ipar ibu membencinya. Tentu mereka gengsi mengatakan benci ibu karena iri hati. Karenanya mereka selalu mencari kesalahan dan kelemahan  supaya punya alasan untuk mencaci maki ibuku dan puas hatinya.

Ya, mereka rindu menemukan kesalahan ibu, agar mereka bisa sepuas-puasnya melampiaskan kedengkian. Kedengkian yang dibungkus rapat dengan tuduhan-tuduhan kesalahan dan kelemahan ibuku, yang mereka ada-adakan, mereka cari-cari, dan mereka besar-besarkan.

Kata orang, waspada. Kedengkian dan iri hati  bisa membuat  orang jahat semakin kalap dan nekad.

Kasihan ibuku.

Jika ibu kekurangan uang, aku melihatnya bergadang menjahit  sulaman-sulaman prakarya yang ia terima dari sebuah eksportir. Ia juga menerima jasa analisa keuangan dan laporan pajak yang cukup banyak.

Ia kerjakan hingga larut malam, tapi tetap  memasak, bangun dini hari, menyiapkan bekal  makan siangku untuk sekolah  dan kuliah. Ia tetap  melakukan pekerjaan rumah tangga.

Tapi para bibiku tetap mencapnya,”Si Pelit, kurang banyak memberi”. Padahal ibuku rela  kekurangan uang ketika ayahku harus berbagi dengan keluarga besarnya.

Tapi bukan berarti aku tak bikin masalah. Baru kusesali di masa kini, dulu aku ikut membebani ibuku.

Aku kerap marah dan tak puas dengan masakan ibu, lain kali aku kesal entah  masalah apa saja.  Tapi ibuku selalu penuh maaf, meski ia kadang menjadi keras karena  ingin aku kuat dan tabah dalam hidup. Ia marah kalau aku cengeng dan  patah semangat.

Ya, saat itu, aku beranjak remaja dan jiwaku sedang labil. Kasihan ibuku, suka menjadi sasaran emosionalku juga. Mungkin aku mewarisi watak keras kepala dan buruk  para bibi dan uakku dari ayah.


PULUHAN TAHUN SETELAH AKU BERKELUARGA

Waktu berjalan. Ibu mengantarku ke jenjang pernikahan. Dengan bangga ia mendampingiku di pelaminan. Ia  katakan, ingin aku bahagia.

Kemudian aku dianugerahi bayi. Oh Bahagianya. Tapi , di balik itu,  ternyata memiliki bayi itu berat. Kurang  tidur, kurang istirahat, seolah duniaku  sudah berakhir di  kamar temoat aku mengurusi bayi. Siang dan malam. 

Ya Tuhan,  kini aku  baru merasakan  semua kepedihan ibuku. Aku baru tahu rasanya mengurus bayi, dan apa artinya depresi paska melahirkan.

Aku baru tahu rasanya berat menghadapi kedengkian para ipar. Tapi, aku sudah mendapat bekal , yakni  dorongan semangat dan  upaya ibu menyadarkanku untuk kuat.

Terus terang, aku rindu kepada ibuku.  Sangat rindu. 

Teringat  ketika ibu menangis di balik terali rumah sakit jiwa. Ia menangis kelu dan terisak, tapi tak mengenalku. Pastinya, jiwa ibu saat itu remuk redam. Apalagi ayahku belum menyadari, bahwa perilaku ayah dan keluarga besar ayah, paling  berkontribusi mengoyak-ngoyak kewarasan ibu.

Teringat ketika ibuku sering kelelahan. Banyak tahun dimana ibu menahan kesakitan . Tapi ia tak mau sedikitpun  kehilangan waktunya buat mengurusi kami. Aku , ayahku dan adikku. Ia abaikan kesempatan berobat karena terlalu sibuk mengurusi kami.

Teringat ketika bagaimana ketegarannya   menghadang prahara . Kala ia  dijadikan sasaran fitnah  paman, bibi dan uakku sendiri.

Teringat betapa ia memiliki segala  kepandaian dan keahlian, yang ia gunakan  untuk membantu cari nafkah, pada saat  kami masih  belum berkecukupan. Betapa rajinnya ibuku.

Dan yang paling sedih, teringat ketika ia akhirnya menyerah pada sakit yang dideritanya. Kata ayah dalam email yang ayah kirim, ibu seperti kehilangan semangat.

Aku terisak  malam ini. Terkenang kata-kata ibu.

“Kebahagiaan ibu, adalah jika kau menjadi manusia yang disayang Tuhan. Tuhan sayang pada wanita yang kuat dan tabah, bertanggung jawab, punya hati nurani, rajin, gigih  menuntut ilmu,  rajin bekerja dan beribadah, sayang kepada ayah, adik dan siapapun jua.”

Bisikan ibu selalu mengandung optimisme.

Aku menggendong bayiku, anak ke 2 ku. Aku sudah menjadi ibu dan baru bisa memahami  perjuangan ibu saat mengandung dan melahirkanku. 

Apalagi , ketika ia mengandung aku di rahimnya , ayahku   tugas lama ke luar negeri . Kasihan ibu. Pasti bukannya fisiknya saja yang sakit, tapi hatinya juga, jiwanya juga.


*  *  *

Malam itu aku  sangat rindu ibu. Tapi  kami terpaut jarak jauh, melintasi benua.  Di seebrang samudera  rasa rindu kepada ibu semakin tak terbendung. Rasa bersalah menggempurku.

 Aku menyesal dulu suka memakinya, dan membiarkan ia kelelahan sendiri di dapur .

Jika kumpul keluarga besar ayahku, ibuku andalan untuk menyiapkan masakan bagi seluruh keluarga besar selama beberapa hari. Padahal saat itu diam-diam ibu sudah mulai sakit. Ia menahan kesakitan dan menyembunyikannya. 

Kata dokter, usia ibu tinggal menghitung bulan. Ia tak sadarkan diri. Begitu surat elektronik dari ayah. Mataku basah. Tak sabar aku ingin pulang kembali ke tanah air. Di seberang samudera ini aku harus mendampingi suamiku bertugas. Beruntung akhirnya waktunya kami kemali ke tanah air lagi . 

Aku tertidur di sebelah bayiku.  Menunggu  waktu pulang ke tanah air, aku rindu ibu.
Akhirnya waktu yang kunanti tiba. Kesempatan pulang ke tanah air, melepas rindu kepada ibu.
Indonesia aku pulang. 



*   *  *

Kami bergegas ke rumah sakit tempat ibu dirawat. Langsung setelah  perjalanan berjam-jam  dari bandara. Sudah kucatat nomor kamarnya. 

Dan aku jatuh pingsan , karena ternyata  ranjang dan kamarnya nya sudah kosong. Dalam ketidak sadaranku, berkelebat mimpi-mimpi aneh. Mimpi buruk dan kenelangsaan batin.  

“  Yanka sayang, bangun nak…,” suara ibu. Ibu? 

Oh, alam kematiankah ini. Bukankah ibu sudah tiada?

Aku lihat suami, anakku, adikku, ayahku, semua ada. Dan ibu…ya Tuhan, benarkah ini ibu? Ia membelai dan mengecup keningku. Rambut memutih,  kulit keriput, tapi ia tetap cantik.Meski tampak letih dan lemah. 

“Iya, alhamdulillah, ibu mulai sembuh nak……. . Seperti kata ibu, kita tidak boleh menyerah pada kekalahan. Ibu harus kuat dan sembuh untuk kalian, kasihan ayahmu , kasihan adikmu, kasihan cucu-cucu ibu…..”


Aku bersujud syukur ,memeluknya. 

“Ibu.., kau memang Octopussyku tersayang, dengan sejuta kekuatan yang entah selalu kau dapat darimana.. Pasti kau minta kepada Tuhan…"

Ibu orang baik, yang berhati bersih, tapi tak pernah berkoar mengaku-aku diri berhati bersih, padahal hati ibu seputih pualam…..

Orang yang hatinya bersih betulan, memang tak perlu memproklamirkan bahwa hatinya bersih.
Cukup tingkah lakunya, ucapan dan  kesehariannya, bisa menegaskan kalau hatinya memang bersih. 

 . 

Ibu…terimakasih ibu mau berjuang untuk sembuh. Yanka sekarang sudah  pulang bu, dan  tak mau lagi jauh dari rumah ibu….. Maafkan Yanka bu, kalau Yanka dulu suka  semena-mena pada ibu…Yanka kangen,” aku memeluknya sekeras mungkin.

Terimakasih Tuhan, aku masih bisa memeluk ibuku  ,yang tangan keriputnya terasa lembut, yang  tulang lemahnya terasa menguatkan, yang suara  seraknya begitu merdu, yang semangatnya selalu bersinar, untuk ayahku, untuk adikku, untuk cucu-cucunya.

*  *  *




Yanka anakku sayang,  jangan sampai sejarah  penindasan ipar terulang kepadamu. Kadang para ipar suka menindas, dan membiarkanmu  kerja dan kerja,  melayani mereka, sampai kesehatanmu memburuk……. Ironisnya ,  banyak di antara mereka merasa itu bukan kesalahan, tapi memang sudah kewajibanmu. 


Jangan menjadi bodoh. Ingat,   ada batasnya mengurusi ipar, mengurusi keponakan suamimu, melayani keluarga besar suamimu…. Karena  kesehatanmu lebih penting untuk suami, anak-anakmu, mungkin cucu kandungmu sendiri kelak….Masa depan masih panjang...... 

Jangan biarkan  orang-orang menindasmu atas nama pengabdian…….
Kalau kau sakit, anakmu terlantar,  apa kau tega  anakmu dalam pengurusan orang lain?  Jangan sampai pengalaman sedih ibu terulang lagi……

Sebagai pelajaran, jangan pernah menjadi mertua berwatak tidak adil dan sulit, jangan pernah menindas menantu demi memanjakan anak kandung secara tidak adil. Dan jangan pernah menjadi ipat yang busuk hati….

Menolong orang ada batasnya. Ketika orang yang kau bantu dulunya terlalulama bermalas-malasan.  Ketika orang yang kau bantu membeli kosmetika perawatan  yang haranya jutaan rupiah, tapi untuk makan harus kau yang bantu, jangan mau itu….

Ketika orang yang kau bantu terlalu lama berleha-leha , pikirkan baik-baik, sementara kauu banting tulang sampai sakit….
Siapa lagi yang akan menyayangi tubuhmu selain dirimu sendiri… Anak dan suamimu ingin kau sehat

Jangan pernah mengorbankan kesehatanmu untuk orang yang masa mudanya  jam tidur yang terlalu panjang, jam kerja dan berjuangnya terlalu sedikit di masa silam.
Jangan pernah mengorbankan dirimu untuk orang  yang besar pasak daripada tiang, berbelanja  kebangetan meski gaji tak seberapa. Sebab merasa sudah disuplai dan ditopang orang tua ekonomi rumah tangganya.

Lalu ogah menabung, waktunya  lebih banyak diisi oleh wisata daripada bekerja. 

Jaga dirimu, demi suami dan anak cucumu sendiri kelak. 



Terkadang kita harus mendidik orang  yang terbiasa hidupnya disantuni oleh orang tua, lalu ketika orangtuanya tiada, kita melanjutkan menyantuni mereka. Kapan mereka akan berpikir sehat.

Mungkin sekarang di hari tua mereka banting tulang, tapi , kita semua tahu bukan, bahwa hari-hari muda mereka , terlalu banyak jam santai dan tidur. Kini setelah kepepet baru kerja keras. 

Kesannya, seolah-olah mereka  kerja keras. Tapi, kita semua tahu betul bukan,  kerja keras mereka  baru dilakukan menjelang usia senja, hampir terlambat.

Dan orang seperti itu takkan berhenti mengkambinghitamkan  orang lain. 


           
           
           

             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar