Daftar Blog Saya

Kamis, 13 Oktober 2016

Kenangan Jalan-jalan ke Gua Pindul , Gunung KIdul , Yogyakarta

WISATA 

Serenade Angin di Gunung Kidul
Isyarat Alam di Gua Pindul



Gunung Kidul 2016.

Mentari  masih sama, dengan rutinitas menebar siang . Menjadikan bayang di sebuah perjalanan. Gunung Kidul.. Gunung Kidul .Saksi Gempa Bumi  hebat tahun 2006. Saksi silam  di masa-masa cerita ketandusan itu.

Puluhan tahun silam, matahari Gunung Kidul terik membakar. Dikenal karena kegersangannya. Tanah keras dengan bebatuan karang yang mendominasi pesisirnya. Hanya singkong dan jenis tanaman tertentu saja yang tumbuh. Namun cerita itu sudah berubah. Kehijauan kini menjadi warna di antara batu karang .
Gunung Kidul 


Liku perjalanan wisata Gunung Kidul ke Gua Pindul


Bus Bimo yang saya tumpangi, bersama rombongan emak-emak jelita (jelang lima puluh tahun) dan lolita (lolos lima puluh tahun) , mengikuti likunya alur jalan turun naik menanjak.

Batu karang kiri kanan jalan dalam bongkahan besar kecil berselang seling dengan pepohonan. Bukit-bukit tebing karang dan gua-gua yang sering dijadikan tempat semedi dan pertapaan  bertebaran di tempat ini.

Gunung Kidul memang terletak di pesisir pantai Selatan Pulau Jawa yang berasal dari  daratan yang terus terangkat melalui proses berabad-abad. Pulau Jawa ibarat sosok yang tengah membungkukkan diri. Bagian depannya di pesisir utara Jawa semakin merunduk. Sementara bagian belakangnya terus terangkat. Jadi pantai selatan Jawa yang curam ini dulunya adalah bekas  dasar lautan yang terangkat ke muka bumi.

Bongkahan karang yang mungkin dikomersilkan tampak membentuk tumpukan di beberapa titik.

Gunung Kidul  semakin seksi, dari balik kaca jendela Bus  carteran biro wisata yang memandu perjalanan kami. Tumben, hari itu  langit demikian cerah. Pemandu wisata kami menuturkan kebangkitan kawasan Gunung Kidul justru menggeliat setelah prahara Gempa Bumi 2006 . Tempat terparah  kerusakan dan guncangannya ini,  masyarakatnya malah terpacu bangkit dari keterpurukan.

Bebatuan Kapur Gunung Kidul, tanda dulunya  bekas dasar laut
Mata air-mata air yang ditemukan  dimanfaatkan untuk menghijaukan dan menghidupkan pertanian. Ternyata di bawah kerontang bukit karang itu mengalir sungai-sungai yang menembus gua-gua di dalamnya, menuju samudera lepas, Lautan Indonesia.

Kawasan pantai-pantainya dihidupkan gairah wisatanya.  Semangat warga terus berpacu dengan waktu. Hingga gua-gua yang ditemukan disulap menjadi ajang wisata petualangan.

Roda kehidupan harus terus berputar. Kebangkitan wisata itupun berbuah manis. Saya adalah salah satu yang mencicipi indah dan manisnya wisata di Gunung Kidul ini. Tentunya selain penduduk yang ikut menikmati pendapatan dari wisata.

Perjalanan dari jalan Adi Sucipto Yogyakarta menyusuri jalan Raya Wonosari, Piyungan, Bukit Patuk, Hutan Bunder, sampai akhirnya masuk gerbang Desa Bejiharjo. Tempat Gua Pindul berada.
Berikut ini adalah rute dan lokasi wisata cave tubing goa pindul, semoga memudahkan anda untuk datang ke sini. Jujur saja , kami memilih menggunakan jasa pemandu wisata  supaya tidak harus mengerenyitkan kening mencari jalan.  Maklum faktor usia tidak memungkinkan.

Dari web sitenya guapindul.com saya dapat informasi, kalau  naik angkutan umum, caranya Naik Bus Yogya –Wonosari di Terminal Giwangan, kepada kondektur minta turun di perempuatan Grogol, lalu naik ojek  ke Gua Pindul.

Sepanjang perjalanan tampak tempat-tempat penjualan oleh-oleh dan makanan khas Gunung Kidul.Seperti Geplak. Terbuat dari singkong, rasanya legit dan ‘jadul’ sekali. Enak betul . Ibu Nefi teman penulis membelinya di perjalanan.

Gua Pindul nan Eksotik



Setelah lebih kurang 2 setengah jam perjalanan. Kami tiba di Gua Pindul. Salah satu destinasi wisata petualangan yang sejak 2012 beranjak naik daun.  Kami turun dari bus yang parkir di jalan Raya. Bus ini tidak bisa masuk lokasi. Akhirnya kami naik mobil pick up terbuka untuk memasuki kawasan hutan pesisir ini. Hahaha...., menyenangkan juga ternyata naik mobil bak terbuka. Meski mentari semakin terik di ubun-ubun. Untung  bawa topi lebar.

Akhirnya tiba  di lokasi, kami harus melompat  turun saking jangkungnya  mobil ’pajero’ julukan untuk pinck-up tumpangan kami. Dengan keceriaan berbaur  kelembutan bahasa  alam , aura  magis dan lugu nya  kawasan. Tak ada deru lalu lintas yang sibuk. Hanya suara angin hutan pesisir dan daunan berbaur unggas. Hanya suara celoteh anak-anak bule dari International School Jakarta yang  bertualang di sini.

Kesempatan berselfie ria tak kami lewatkan. Dengan latar belakang tulisan Wira  Wisata Gua Pindul. Wisata Cave Tubing ke gua ini dibuka sejak pagi jam 06.30-17.00. Cave Tubing ini merupakan jelajah sungai dalam gua menggunakan Ban Dalam mobil ukuran jumbo.

Kami tak perlu sewa sepatu plastik karena sejak awal kami memilih pakai sepatu plastik. Ibu Tini temanku yang cantik mengenakan sepatu crog kw 2. Tapi cukup mantap untuk melangkah melewati jalan setapak terjal. Setelah mengenakan pelampung , berselfie ria, lalu masing-masing membawa ban jumbo itu. Menuruni  tebing  yang tidak terlalu dalam.


Ada sejenis laguna dengan air yang kecoklatan. Aha, pantas saja Ibu Tini mengingatkan untuk bawa sabun dan shampo selain baju ganti. Pakaian kami  memang sudah diautr . Yang sportif, seperti celana panjang hitam dan baju pink kaos. Sepatu plastik.
Satu persatu rombongan kami menyimpan ban hitam jumbo di sejenis telaga yang bersambung sampai ke dalam gua dan ke luar gua di sisi berbeda.

Perlahan kami duduk di tengah ban yang terapung di tepian telaga. Lalu tiduran seperti bocah saja. Satu sama lain harus bepegangan. Yang dipegang kuat cantolan pada bannya. Bukan tangan lho. Maka mulailah pemandu wisata menarik dan mendorong rangkaian  ibu-ibu cantik ini .
Saatnya bertualang menuju kegelapan gua, di air yang dingin. Aduhai segarnya udara yang mengalir di celah-celah gua. Kapan lagi kita bisa melepas atribut kesibukan kaum urban kota besar ? Maka hari ini udara hangat alam perawan segar dan bersih menyeruak ke dalam pernafasan, bahkan ke segenap batin kami.
Berpose Di Gua Pindul Yogyakarta


Gua Pindul Yogyakarta


Tampak ribuan  kelelawar menggelantung di langit-langit gua. Sesekali sorot kilau mata mereka memantulkan cahaya senter. Dan sesekali mereka  meronta-ronta di atas kami. Duh indah sekali. Lucu dan kedekatan kami dengan  alam memberikan rasa nyaman.
Stalagtit dan tetesan yang masih aktif,  membentuk motif natural yang bikin kami berdecak kagum . Sungguh dahsyat indahnya ciptaan Sang Maha Pengasih.

Kami bagai rangkaian rantai yang melayang di atas permukaan air. Melewati kegelapan gua, dan menyaksikan sebuah celah cahaya  dari permukaan, ada anak tangga buatan mencapai lubang cahaya yang indah di atas sana, untuk evakuasi katanya.  Pantulan cahaya yang dramatis... sungguh eksotik suasananya.

Dalam remang lampu senter dan semburat lintasan cahaya kejauhan, suara kami menggema saling mengingatkan saat melewati celah sempit. Agar kepala kami tak terbentur. Danpandai-pandai mengendalikan posisi  dengan cara menendangkan kaki .

Pemandu wisata menceritakan kedalaman laguna ini kedalamannya 5 meter lho, bahkanada yang mencapai 12 meter. Namun  tak membuat kami gentar. Kecuali beberapa ibu yang takut ada ular air katanya. Gua ini memiliki panjang sekira 350 m, lebarnya sampai 5 meteran lah. Rasanya enak  seperti sedang diayun ayun dalam kesejukan air telaga.

Mungkin sekira 40 menitan, saya  kurang pasti, sampailah kami di zona yang mulai penuh cahaya. Mulut goa satu lagi menyambut kami. Beberapa  ibu sudah tidak sabaran, akhirnya berenang ke tepian.  Ada ibu yang tidak bisa berenang menyangka laguna /telaga menjelang akhir petualangan itu dangkal.


Padahal dalamnya 5 meter. Sempat terkejut ketika ia melepaskan tubuh dari ban. Meski pakai pelampung tetap harus bisa berenang. Pemandu memintanya cepat berpegangan pada  ban dan menggiringnya ke tepian yang dangkal betulan.  Jadi sebaiknya bersabar kalau saat akan merapat di ujung perjalanan lintas Gua Pindul.

Seru sekali petualangan siang itu. Hingga kami naik ke permukaan, menyusuri jalan menanjkan sedikit terjal ke arah tepian jalan kecil. Naik lagi mobil pick up menuju pos pemandu wisata. Lalu menumpang mandi.

Oya, untuk menitipkan barang di penitipan tas  kita bisa mengeluarkan uang Rp 3.000 sampai Rp 5.000,-. Untuk menumpang mandi dengan air yang jernih bersih di jajaran kamar mandi cukup keluarkan kocek Rp 2.000 ke atas. Boleh lebih. Air sejuk membasuh  kami. Pakaian kering yang kami bawa kembali menghangatkan tubuh. Lalu menuju mushola yang tersedia di kawasan ini.

Wana Wisata ini memang dilengkapi juga dengan outlet yang menjual pakaian dalam dan pakaian luar. Mengantisipasi peserta tour cave tubing yang tidak membawa pakaian ganti setelah basah kuyup di dalam  gua. Ada juga tempat permainan anak seperti perosotan, ayunan, dan outbond.
Siswa siswi Sekolah Internasional (International School Jakarta) sedang bermain di Gua Pindul 

Area Out Bond di Gua Pindul , Gunung KIdul, Yogyakarta

Kolam Renang di Gua Pindul Yogyakarta


Tibalah saat makan siang istimewa. Ini dia menu spesial ala Gua Pindul. Nasi gudeg, minuman wedang jahe yang manis pedas hangat. Gulanya spesial sekali  karena memang produk alami nira dari pohon-pohon setempat. Makan siang dalam kebersamaan , gudeg, bacem , keresek.... sambal. Teh tubruk panas... Fantastik sekali. Di antara hembusan lembut  bayu , menerobos pepohonan  hutan pesisir.
Nikmatnya makan nasi merah hanga, gudeg, tempe tahu bacem, lalab , sambal ala Gua Pindul saat jam makan siang. Minumnya  wedang ronde yang legit , rasa jahe dan hangat.


Usai santap siang unik lezat itu , kami kembali naik pick up menuju parkiran Bis. Naik bis, dalam kebersamaan rekan-rekan yang nota bene para ibu, kami  kembali dibuai keindahan pesona  Gunung Kidul  sepanjang perjalanan pulang  ke penginapan di Yogyakarta. Seraya dalam hati berharap dapat mengajak keluarga ke tempat wirawisata keren ini.
Untuk mereka yang belum pernah kemari, ini ada info (kalau belum berubah) tarif masuk kemari.
Paket   Cave Tubing Pindul
1.       Jasa pemandu
2.       Perlengkapan ( ban pelampung, jaket pelampung, sepatu karet, Head Lamp )
3.       Asuransi
4.       Biaya Rp 35.000/ orang (Wisatawan Lokal)
5.       Biaya Rp 50.000/ orang (Wisatawan Mancanegara)

Biaya Retribusi masuk kawasan Pindul : Rp.10.000 / orang

4 komentar:

  1. rasanya pengen nyobain rebahan di ban itu mbak.. kayanya nikmaat bgt spt lepas beban di dada :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Neng Lia Lathifa asyik lho serasa diayun-ayun . Airnya sejuk, mengalir kita . Tapi sesudahnya buru-buru mandi , soalnya airnya nggak tau bersih atau tidak. Langsung sabunan dan pakai shampo.

      Hapus
  2. Ahi hi hi itu keren sekali mbak posisi pas di photo di bannya pada sejajar gituh pasti butuh waktu lumayan lama ya untuk merapihkannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi , iya lumayan ... hanya tidak terlalu lama juga, hanya memang antre satu persatu turun ke air, lalu saling berpegangan sambung menyambung.... butuh waktu. Thanks untuk kunjungannya ke sini

      Hapus