Daftar Blog Saya

Rabu, 27 Agustus 2014

Nilai Jerih Payah ,Ide dan Kreatifitas di Balik Karya Kerajinan Tangan



Nilai Jerih Payah ,Ide dan Kreatifitas di Balik Karya Kerajinan Tangan


Komunitas seni dan daur ulang,  seperti biasanya setiap Selasa pagi  berkumpul di Gedung Bale Sawala , alias Gedung Serbaguna RW 01,Perumahan Metro Soekarno Hatta Estate, Margahayu Raya Bandung.

Komunitas yang  aktif dan digagas oleh Ibu Ketua PKKnya, bu Devi,  mulai aktif sejak tahun 2013.  Awal mulanya adalah kegiatan pelatihan gratis,  membuat kerajinan tangan dari  limbah koran bekas.

Saat itu kecamatan Rancasari Kota Bandung mengundang para ibu PKK dari  Kelurahan Manjahlega, Cipamokolan , Mekarjaya, Derwati. Pengajarnya adalah Kang Jalu. Penulis sendiri tidak ikutan.  Tapi penulis bisa belajar dari  rekan-rekan yang sudah ikut pelatihan.

Kebersamaan anggota komunitas ini  mendatangkan manfaat, saling berbagi dan mengajarkan.  Karya-karya  yang dihasilkan juga sudah mulai ada pembelinya. Walaupun dalam jumlah yang sedikit.



Yang menyenangkan adalah banyak keterampilan baru yang kami dapatkan.

Wah , seru sekali kalau karya sudah jadi.



Bazar, Pameran, Nilai Jerih Payah dan Harga sebuah Ide

Pernah juga penulis ikut bazaar dan pameran. Datang seorang yang  ingin membeli dan menawar dengan harga sangat miring.  Seorang rekan saya  protes jika harga karya kerajinan tangan/prakarya/  handicraft / atau hasil kreatifitas  kami dihargai bergitu rendahnya.

Sebut saja karya vas mini / temoat menyimpan pensil dari  bubur kertas.  Wadah ini sangat bermanfaat untuk disimpan d meja kerja, untuk mengorganisir peralatan seperti pensil, ballpoint atau obeng dlsbnya. Bisa juga berfungsi untuk menyimpan sedotan  air minum kemasan gelas. Atau untuk mempercantik meja rias dan meja kerja, dengan bunga artifisialnya.
 Ada yang menganggap  , jika karya tersebut dari  limbah, pasti  tanpa modal. Ia ingin membeli  karya tersebut, katanya untuk merapikan meja tulis anaknya. Buat menyimpan pensil /ballpoint  . Lalu ia menawar,  minta membeli asal  harganya Rp.2.500. Saya katakan sudah dibandroll  Rp 5.000. Pembeli tersebut menggelengkan kepala, terlalu mahal untuk barang dari sampah, lalu segera pergi. .
kerajinan dari limbah, kerajinan daur ulang bubur kertas, recycle handicraft

Saya berlari mengejarnya, biar saja  ia membeli dengan harga Rp 2.500 , sebenarnya saya berharap ia membeli dalam jumlah banyak. Tapi ternyata dia hanya ingin membeli 2 buah saja. Tak mengapa, pembeli  dan konsumen itu kan raja, saya iyakan dengan senyuman. 

Saya akhirnya menjual dengan harga teramat miring , hitung-hitung promosi dari mulut ke mulut. Namun rekan dekat saya menarik lengan saya.   
          
  “Bu, ingat jerih payah ibu mengumpulkan  bahan mentah karya itu. Ibu  mengambil sampah  tetra pak bekas buavita, sampah lho bu. Ingat  tenaga dan waktu  juga, saat  ibu menyucinya supaya bersih. Butuh waktu  dan enerji juga serta ketelatenan kala mengguntinginya. Dengan sabar ibu  menjemurnya.

Lalu untuk polesannya. Ibu membuat bubur kertas dari limbah kertas kan? Setelah terkumpul ibu harus merendamnya sampai 3 hari.  Ibu merendam, butuh waktu  juga dan menggunakan tenaga bukan? Tidak mudah menghancurkan kertas menjadi bubur kertas. Kalau menggunakan blender,  ada enerji listrik yang dipakai. Kalau menggunakan air, ada jasa air bersih yang harus dikompensasikan.

Lalu untuk menghasilkan bubur kertas  ibu , harus menyiapkan saringan dan kain, lalu  memerasnya. Sudah pasti memerasnya dengan sekuat tenaga supaya setengah kering. Selama ini ibu lakukan sendiri bukan? Karena ibu pengrajin langsung, belum menjadi pengusaha kerajinan yang bisa membayar upah  pegawai. Nah kalau dibantu pegawai, ibu juga kan harus siapkan anggaran sebagai bagian dari modal. Itukan modal  jasa/tenaga.

Lantas berapa harga lem Fox yang ibu beli untuk membuat adonan bubur kertas bisa diolah. Lem Fox Purih  yang berkualitas itu ada harganya juga kan? Namanya  kan modal  bahan mentah.
            
 Ingat bu, waktu kita bersama mengaduk adonan itu, harus sekuat tenaga bukan? Supaya adonannya bagus dan karyanya juga rapi dan bagus, seperti membuat roti saja. Ketika ingin memberinya warna,  harus diuleni lagi supaya warnanya merata.

Tak sebentar juga saat kita ingin membuat ornamen hias di  karya yang indah ini.   Ornamen yang sering dibuat adalah  bunga-bunga dan daun. Kita mencetaknya satu demi satu. Telaten dan lumayan  membutuhkan ketekunan, kesabaran, ketelatenan dan enerji lebih. Kalau musim hujan , bisa 3 hari baru kering dan siap digunakan.

Nah untuk  membuat wadahnya,  setelah limbah tetra pak bekas buavita/ hydrcoco/susu ultra/  tehkotak / dlsbnya  yakin bersih dan  digunting rapi. Barulah kita  bisa memulainya. Ini juga butuh keterampilan, ketelatenan, kesabaraan dan  ketekunan. Kita dengan cermat memoles permukaan luar tetra pak dengan adonan. Lantas kita menjemurnya. Sampai  3 hari. Jika hujan kita harus mengangkatnya dan mengamankannya ke tempat teduh.

Sesudah kering,  hasilnya baru ditempeli ornamen seperti bunga dan daun dari bubur kertas juga.  Ingat juga ketika kita menghiasi wadah pensil itu dengan bunga dan daun yang kita cetak satu demi satu seharian lamanya. Lantas dibuat mengkilap dengana adonan lem putih cair, dan menjemurnya kembali.
           
 Terus bu , ide segar alias gagasan cemerlang, untuk sebuah karya, munculnya  kan tidak  ujug-ujug. Tapi melewati berbagai proses dan pemikiran dan  penjelajahan seni  yang  dalam. Harga sebuah seni, desain dan gagasan itu  tidak murahan lho.Harga sebuah desain bisa  mahal jatuhnya.

Nah, baik enerji /jasa manusia , waktu dan  ide yang semestinya diberi harga, sering tidak dianggap oleh pembeli karya kerajinan tangan. Mereka hanya berpikir, bahan bakunya kan murah, hanya sampah? Lupa proses pengumpulan dan pembersihan sampah. Lupa bahwa ada modal berupa bahan mentah yang harus dibeli seperti lem dan  enerji listrik.

Jadi bu, alangkah teganya orang yang  tidak menghiraukan jerih payah karya kerajinan tangan…….Tak sedikit orang yang melirik sebelah mata pada hasil karya kerajinan tangan…,” rekan saya panjang lebar  memberi penjelasan.
             
karya kerajinan tangan daur ulang, handicraft  bubur kertas, sebuah karya bukan hanya bermodalkan bahan mentah dari limbah, tapi nilai gagasan atau ide adalah hasil jerih payah, juga saat mengolah bahan mentahnya, membutuhkan kreatifitas dan  enerji serta kesungguhan yang tidak asal-asalan. Selanjutnya setelah mengolah bahan mentahnya,  mulai membuat sentuhan seni  dan membuar karya sebagai sebuah produk indah. Proses pembuatan sampai pengeringan juga tak sebentar. Butuh ketelatenan. Alangkah  ironisnya jika  nilai jasa ide dan kreatifitas serta keterampilan jemari tangan tidak dihargai....




Saya terdiam mendengar ucapan teman baik saya itu. Sedikit termenung.

Setelah saya hitung, modal lem,  modal pewarna , … Kalau dihitung harga modal bahan mentah per satuannya jatuhnya memang Rp 2.500. Tapi itu hanya modal bahannya  saja. Lantas dimana upah jerih payah untuk tenaga kami? Memangnya sebuah karya tidak dihargai dari tenaga dan ide atau kreatifitasnya? Memangnya membuat karya kerajinan  tidak perlu disemangati dengan  rasa bahagia menerima imbalan atas jerih payah pengrajin?

Aduh, saya jadi ingat diri sendiri. Kalau belanja dulu  kerap saya menawar kebangetan. Untungnya  saya sering terhenyak kalau belanja ke orang kecil . Misalkan penjual buah dan sayuran  gerobak. Kasihan kan, mereka menjajakan dagangan sampai blusukan, mencari nafkah, kok  kalau saya mau beli minta ampun deh  menawarnya?  Berapa nafkah dan untung ia dapat dari berjalan kaki melintas  jalan dan panas terik mentari? Paling hanya sedikit  untung nya, itupun belum tentu bisa menutup modal.

Hikmahnya,  saya jadi lebih  empati kepada orang yang berjualan,  tapi tidak mencari untung besar. Saya memilih membeli tanpa menawar murah kebangetan. Sebaliknya jika berjualan, saya juga perlu empati kepada konsumen atau pembeli, jagar tidak   menjual mahal  kebangetan dan menjual paksa kosumen.

Prinsipnya, saya ingin konsumen bahagia dengan barang yang saya jual, bukan membeli karena terpaksa atau karena rasa tidak enak. Ingin juga ia merasa membeli  tidak kemahalan. Walaupun kerap mereka membeli dengan harga di bawah modal. Tak apalah, kalau untuk  masa-masa promosi. Selanjutnya, semoga empati dan nurani mereka juga berjalan ya.....

Bukankah nilai suatu kreatifitas alias desain tidaklah murahan.  Belum lagi tenaga untuk produksinya? Sayang, karya seni memang sering kurang diminati, karena hanya sebagai  pajangan saja. Padahal  pajangan dan keindahan bunga-bunga di sekitar kita, karya seni di sekitar kita, memberikan efek psikologis yang besar. Seperti rasa kebahagiaan dan memicu semangat bekerja dan bahagia.

Akhirnya, saya ikhlaskan ibu yang membeli karya saya sebanyak 2  buah, dengan harga Rp 2.500  tadi.  Saya berharap ia bisa membahagiakan anaknya di rumah. Ah, ada – ada saja.

Lantas saya  membatin, biarlah untuk pertama kali, saya anggap itu bagian dari promosi saja. BTW saya berharap, kelak bisa menjual karya kerajinan tangan dengan harga wajar.

Semoga para pembeli karya kerajinan tangan memahami,  bukan hanya modal berbentuk bahan mentah saja, tapi tenaga  dan gagasan /ide  itulah , yang juga pantas  dihargai. 

kerajinan dari limbah, kerajinan daur ulang bubur kertas, recycle handicraft

kerajinan dari limbah, kerajinan daur ulang bubur kertas, recycle handicraft
kerajinan dari limbah, dari kardus bekas, kerajinan daur ulang bubur kertas, recycle handicraft





karya kerajinan tangan daur ulang, handicraft  bubur kertas, sebuah karya bukan hanya bermodalkan bahan mentah dari limbah, tapi nilai gagasan atau ide adalah hasil jerih payah, juga saat mengolah bahan mentahnya, membutuhkan kreatifitas dan  enerji serta kesungguhan yang tidak asal-asalan. Selanjutnya setelah mengolah bahan mentahnya,  mulai membuat sentuhan seni  dan membuar karya sebagai sebuah produk indah. Proses pembuatan sampai pengeringan juga tak sebentar. Butuh ketelatenan. Alangkah  ironisnya jika  nilai jasa ide dan kreatifitas serta keterampilan jemari tangan tidak dihargai....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar